Tampilkan postingan dengan label Cerita hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita hati. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 07, 2016

Menikah


Menikah itu, adalah jalan pulang, dimana bisa menemukan tempat persinggahan hatimu ketika lelah, letih, dan bersedih.

Menikah itu, adalah kesiapan berbagi , baik setiap rasa gundah ataupun rasa bahagia.

Menikah itu, adalah  merajut jejak sekaligus menemukan jalan bersama untuk sampai ke SyurgaNya.

Benar kata orang...

Selepas perahu kita meninggalkan tepian pantai yang  indah dan meninggalkan kenangan, kita akan menemui pemandangan yang jauh lebih menakjubkan sekaligus ombak yang menantang . Dimana tak ada cara lain selain melewati nya.

Awalnya aku ingin membantumu mendayung, agar kita jauh lebih cepat sampai ke tujuan kita. Tapi lalu kamu benar, aku lebih baik bersikap tenang dan menjaga apa apa yang ada di perahu kita. Agar kita selamat. Tapi tak hanya kita berdua. Melainkan yang kita bawa harus selamat pula.

Jadi aku benar. Kali ini aku yang benar. Benar dalam benak dan versi ku. Bahwa aku lah juga yang berbenah diri. Agar setidaknya perahu kita tak bocor.

Minggu, Oktober 25, 2015

Bawang putih


#gakpenting

Hari ini, lagi momong si anak sambil nunggu suami pulang. Kebetulan sambil nongkrong di tetangga. ... emak emak

Nah, pas suami pulang dia ikut berhenti dan nongkrong disana.

" Yah, baca sms saya gak tadi? Kan saya ada pesan sesuatu," ucap saya gara gara liat suami diem aja.

"Sms apa ya, gak ada sms masuk tuh,"

Ah, masa sih? Batin saya. Saya kirim pesan lewat wa buat nitip dibelikan sayuran, jagung, bawang putih, etc. Biasa sich emak emak. Pengen hemaat dalam segala hal, hihi. Kalau di pasar kan beli banyak, harga murah.

"Yaahh, bawang putih habis bis nih yah, " saya merajuk. Hahaha. Lagian, surat cinta buat suami juga kok ya bawang putih.

"Ya udah sih, besok beli di tukang sayur keliling," katanya cuek. Alamak, alamat mahal dong.

Terus ... terus... suami sibuk bagi bagi oncom seger buat tetangga. Pengen tambah merajuk. Hihihi. Bukan karena pelit. Tapi masih karena apa yang dipingin belum dapat.

" mbak.. Mbak... kalau mau oncom ambil aja di motor. Saya bawa banyak tadi," kata suami sama tetangga.

Nah waktu berlalu. Tetangga saya colek colek saya.

"Mbak, tadi waktu ngambil oncom di motor suami mbak, saya liat ada bawang putih, jagung, etc loh..."

Ehh... iya?

Langsung liat ke arah suami. Mukanya salting kayak ketahuan apa gitu, hahaha.

"Mau kasih surprise kali ya mbak," bisik tetangga..

APA??? SURPRISEE? BAWANG PUTIH?

HAHAHA.

Kembang! Mana kembang! Wkwkw

Yang romantis dong bang

Senin, Juni 22, 2015

Second pregnancy


Lama sih sebenarnya pengen share tentang proses kehamilan itu. Dari kehamilan pertama mungkin, tapi ada saja alasan untuk mengulur, huhu. Ngefek atau gak ke orang lain saya gak tau, tapi rasanya pengen banget punya kenangan berupa catatan tentang dunia 9 bulan itu.

Pengennya memang tiap tahap, tapi MasyaAllah... ini udah udah kehamilan kedua, bahkan udah jalan 5 bulan. Telat bingit.. hihihi.

Tapi sudah lah, malam ini saya lagi pengen ngisi blog. Pas lagi tepar banget. Tapi teteup aja gak bisa tidur, padahal udah rebahan dari tadi.

Oke, my second pregnancy. Doakan ya, insyaallah november lahiran. Jeda sama si kakak farhan insyaallah 21 bulan. Ah.. apalah... apalah.

Sensasinya? Uwoow... kaget, senang plus panik. Gimana ya  si kakak masih kecil banget, masih lucu banget. Masih sangat butuh perhatian sekali.

Dan orang yang paling shock adalah: treng... treng... yap, jauzy. Nyebelin ya, Haha. Padahal udah direncanakan lama, begitu tau malah kaget. Harusnya kan baby blues nya ke saya. Wkwkwk.

Alhamdulillah, kalau yang lain mendukung aja. Ada sih, satu dua yang ikut ikutan shock dan kasihan. Tapi senangnya, banyak yang mendukung
"Alhamdulillah... Gak papa mbak, kan masih muda."

Wew... masih muda apanya coba #tepokjidat.

Nah, perbedaannya ada gak?
Adaaa... Tapi gak seberapa. Memang ya, anak pertama (apalagi cucu pertama) ternyata menjadi yang amat ditunggu, bahkan secara berlebihan, hihihi. Bisa bikin geleng geleng yang udah punya selusin, haha. Kalau yang kedua ini, gak terasa aja. Gak kalap juga. Udah 2 bulan baru mampir ke bidan  itu pun serius cuma mampir. Tau nya? Bahkan sebelum sebulan usia kandungan, ya maklum, masih keinget, kebayang , terasa sama yang hamil yang pertama. Tanda tandanya kan rata-rata sama. Tapi rasanya? Beda sikit lah, Mmm... hamil kedua lebih gak terasa dag dig dugnya. Meski rasanya, MasyaAllah, lebih capek ding. Saya baru tau rasanya derita ibu hamil ya pas yang kedua. Yang katanya pinggang kerasa mau patah, tulang sakit banget, parah sampai ada yang gak bisa bangun. Saya ngerasain semuanya, haaa 60 % lah.. Gak parah banget, tapi jauh lebih berat dari hamil pertama. Itu belum kalau ada adegan si kakak yang udah nyaris 10 kg, rewel buanget, minta gendong, rasanya? Uwoh... uwoh. Dan sebagai tambahan dramatisnya, hihihi. Hamil kedua ini ( Alhamdulillah) udah bertiga aja sama suami, tanpa lagi ada embel embel orang tua, saudara, mertua apalagi ART yang bantu. Dan karena saya lagi diajak mandiri, tinggal di pelosok kampung ( bukan di desa ya), rumah mewah pun masih nyumur, jadi tentu aja, ada agenda nimba sumur, yang dalamnya kurang lebih 20 meter, josh!
Tapi alhamdulillah, adegan ini juga udah mulai berkurang semenjak hamil, banyak an di handle sama suami. Kecuali dengan sangat sangat kepepet, pas suami kerja dan air stok habis banget, padahal perlu banget. Cuma sekali dua kali nimba, habis itu,.... tepar! itu belum Nyuci, masak, bersih rumah, ada halaman depan, samping, belakang, yang kalau pagi pagi nyapu dan beres, dari habis subuh sampai bisa jam 9. Uyuuuh (ini Gak ngeluh kok, cuma perasaan aja, wkwkwk)

Nah, bedanya sama hamil pertama? Yah, bisa dibayangkan sendiri lah, banyak yang manjain, hiks.. hiks. Tinggal tempat orang tua, dengan segala fasilitasnya. Saudara, teman, buanyaak.Kalau mau Nyuci tinggal muter mesin, kalau mau makan tinggal bilang, dsb. Makannya kebayang kan, kita bisa nyambi penelitian, plus skripsi. Bisa selesai ngebut, seminggu sebelum melahirkan, bisa sarjana. Yeee!

Dan Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih belum menyapih si kakak. Masih di perjuangkan buat nursing while pregnant nya, bahkan pingin bingit sampai tandem nursing. Bisa puasa ramadhan juga dengan 3 tanggungan. Tapi untuk yang ini, lain kali aja saya cerita.

Meski penutupannya agak rancu, saya mau jujur aja, nulis segini saya lelah banget. Apalagi disambi menikmati pinggang dan kaki yang rewel ini. Plus si kakak yang emang lagi batpil dikit. Waah... saya gak kuat buat melanjutkan, Zzzzzz

Selasa, November 04, 2014

Catatan fiksi-nyata



Siang mulai beranjak sore. Hari itu lelah kami berpadu cepat. Perjalanan panas antara Balikpapan-Samarinda rasanya begitu menggairahkan untuk tidur. Kecuali abah yang sedang asyiknya menemani pak supir bercakap-cakap.
Supir : Oh.. jadi baru menikahkan anak ya pak
Abah : iya pak, anak kedua. Masih kuliah pula, semester 7
Supir : Walah pak, jadi ini udah nikahan anak yang kedua ya? Gak sayang pak sama kuliahnya anak-anak?  
Abah : Sebenarnya nanggung pak rasanya. Yang kemarin, anak pertama kan mundur lulusnya, malah belum bisa lanjut untuk jenjang selanjutnya (lirikannya ‘nyaris’ menuju saya. Jadi ya, rasanya juga ‘nyaris’ nyucuk banget dihati, huhu)
Supir : Wah sayang sekali...
Abah : Yah.. nggak juga pak. Begitulah kalau jodoh sudah datang. Anak-anak saya ini kan perempuan. Kalau ada laki-laki sholeh yang datang meminta ya mau bagaimana lagi, harus diterima, tanpa alasan apapun, apalagi kalau masalahnya belum lulus. Bisa timbul fitnah nanti pak...

Saya : Eheheh #ngalem, #Wew

8 Bulan



Kenapa kebiasaan si kecil mulai berubah lagi?

And it makes me annoyed,

Sesungguhnya.. sebenarnya... aku sudah mengantuk sejak tadi. Tapi memang beginilah siklus tidur kami para ibu. Yakni tergantung bayinya, kapanpun ia ingin bangun, bangunlah kita, kapanpun ingin tidur, tidurlah kita. Kecuali para ibu berhasil me’lobi’ si bapak untuk ikut turun tangan mengurus bayi. Jadi bahasa kejamnya, si bapak akan mengurus bayi ketika bayi bangun,dan membiarkan ibu tidur lelap tanpa gangguan. Dan ketika bayi pun tidur, si ibu juga ikut terlelap disampingnya, huawaahh kejamnya...

Bahkan ketika  jam dinding sudah berdetak sepuluh kali, ia masih merayu- rayu dengan tangisannya untuk bermain. Seolah meminta berhenti untuk dikeloni. Terpaksa dan dengan sangat terpaksa aku menghentikan belaianku, mengajaknya bangun, menyalakan kembali lampu kamar, daaaan, tersebarlah senyumnya. Cerah dan meluluhkan. Tangannya bergerak-gerak lucu menatap kipas angin. Suara khas bayinya keluar membentuk nada sambil menggenggam jari jemari kakinya. Ia menatapku berkedip-kedip dengan matanya yang bening, lalu menambahkan senyumnya yang manis dan mempesona, untuk mengajakku bermain.

8 bulan sudah...

Menatap lekat wajah lucunya membuatku haru mendadak. Pertanyaan  pertanyaan yang bertahun-tahun lalu tak kian terjawab, rupanya dijawab kini.

are you my baby?

Mengingat dulu tangan bahagia ini mengangkatnya, ia masih sangat kecil dan lemah waktu itu. Lalu ia sudah mulai bisa tertawa, menggenggam tanganku. Oh, it’s so happy.  Selang bebarapa bulan kemudian kami menunggu gerak tengkurapnya, tak juga hadir, sabar tentu saja ada, tapi proses menunggu dengan gelisah itu lebih dominan. Kamu kenapa sayang? Malas kah? Atau tak mampu? Kenapa rasanya seperti menjudge si bayi ini. Pun ketika bulan ke 7 ia belum juga menampak rasa ingin merangkak, kami masih siap menunggu. Bagaimanapun proses perkembanganmu itu membahagiakan, membuat kami menunggu-nunggu. Sabar dan gelisah sudah diluap-luapkan pada suami lewat seluler, pun disuruh sabar dan jangan gelisah. Nasihat seperti ‘semua anak punya caranya sendiri, punya masanya sendiri untuk berkembang’ , semua itu tenggelam dengan kicauan mereka tentang ‘Loh, anakku sudah mulai tengkurap usia 2 bulan, sudah mulai merangkak usia 7 bulan’. Lalu gelisah lagi... it is me, Mom.

Now, 8 bulan

Apa aku yang salah? Stimulasi yang kuberikan tidak begitu baik? Aku banyak tidak belajar? Kebanyakan teori? Lalu harus belajar dari mana? Sampai-sampai godaan untuk membelikan dan menaikkan dia di ‘baby walker’ menggiurkan dibenakku. Tapi sisi lain sehatku masih bisa bergeming dan menggumamkan, “He is still eight months...”

Baiklah, fokus balik lagi.

Sementara aku berebah, si kecil duduk di sisiku, menepuk-nepukkan tangannya (dengan khas gaya bayi tentunya) dan aku bernyanyi.

“Kamu mau main apa sayang?”
Tak ada jawaban pasti keculi suara lucu dari mulutnya.

“Oke, Ayo tepuk tangan, anak yang sholeh..”

ia menggerakkan dua tangan mungilnya untuk dipertemukan didepan dada, mengikuti arahanku, done! Aku tersenyum. Sembari bernyanyi dan mengulanginya beberapa kali lagi.

“Selanjutnya, geleng-geleng ya nak...”

Kembali ia mengikuti arahanku, menggelengkan kepalanya tanpa aturan. Tawaku pecah. Lucu.

"Teriak ! Aaaaa.." aku mencontohkan. ia pun kembali mengikuti. Mulutnya bergerak melebar dan berucap, " Aaaaa" dengan ekspresi marah dibuat- buat

Stimulasi kecil ini sering diajarkan ammah2 yang mengajaknya bermain. Tepuk tangan, geleng-geleng, memeletkan lidah, memainkan bibir, kemudian kiss bye (boleh usul yang lain, hehe).

Puas rasanya melihat ia ikut tertawa juga.

“Kalau begitu terkhir, sebelum kita bobo. Daadaa sayang..”
Ia kemudian mengikuti tanganku yang melambai-lambai. Gerakannya ke segala arah. Membuatku makin terbahak-bahak.

“DAADAAA,..” ucapnya lamat dan jelas. Tentu saja membuatku surprise. Ia bahkan sudah bisa mengkuti ucapan sederhana itu. Kalau kemarin ia juga mengikutiku bicara “Nggak” dengan keras, lalu bunyi ‘toet-toet’ juga lumayan jelas, membuatku tersihir beberapa saat. Sebelum akhirnya rasa haru itu memuncak, menghadirkan setetes air bening di ujung mata. Tak  urung aku menciuminya bertubi-tubi.

Kali ini waktunya istirahat, aku mematikan lampu, menaruhnya kembali ditempat tidurnya, kemudian kembali pada epiode ‘keloni’. Ia masih mengeluarkan suara kecil membentuk sebuah nada lewat bibirnya. Lalu mengangakat jemari kakinya dan membiarkannya menyentuh mulutnya. Iamjinasiku bermain, membayangkan seolah ia bernyanyi sambil memegang mic, yaitu kakinya sendiri. Imajinasiku tak penting. Tapi melihatnya bergerak baik dan normal itu lebih membahagiakan. Sambil membelainya , aku mengucapkan terimakasih karena sudah banyak membuatku tertawa dan bahagia hari ini.


Yes, he is still eight months old

Pesan Singkat


Saya seperti bangun dari sebuah ketidaksadaran yang amat lama ketika menemukan sebuah pesan singkat dari suami saya.
Saya menunggu kesediaan kalian, bunda dan fajri untuk mendampingi saya disini...
Pada akhirnya pesan itu keluar. Entah bagaimana mendefinisikan perasaan saya saat itu; marah, terharu, kesal,sedih, takut dan rindu. Semua terwakilkan dalam getaran tangan saya dan setetes air mata disudut mata saya.  Emosi saya teraduk kala itu.

Sebab,
Ini sudah bulan kelima, usia anak saya bahkan sudah menuju 8 bulan. Masa-masa emas dimana ia hanya menggiring senyum semua orang yang memeluknya. Lucunya mengalahkan boneka manapun yang pernah dibeli semahal apapun. Tapi bahkan haru dan bahagia itu terbagi menjadi sesak dan rindu yang menggumpal karena harus berpisah dengan belahan hati. Terakhir suami saya melihat si kecil adalah ketika ia masih 2 bulan. Ia bahkan belum mampu merespon secara sempurna terhadap apa yang suami lakukan saat itu.

Dilematis dalam arti yang sesungguhnya. Akan dibawa pergi oleh laki-laki yang dirindui adalah angan terkeras saat ini, namun tak bisa juga dipungkiri, bahwa saya bahkan merasa takut. Takut pada dunia nyata, bahwa ini waktunya berjuang untuk sebuah realitas hidup yang sesungguhnya. Membayangkan bertahun-tahun kemudian seperti apa kiranya keluarga saya, membuat saya tak henti-hentinya merapal do’a. Harus memulai adaptasi dari nol, di sebuah tempat yang sungguh asing, bahkan mungkin karena lamanya tak bertemu, bisa jadi suami adalah salah satu dari sosok asing itu, adaptsi yang berat kiranya. Tapi menyesuaikan mimpi untuk bisa sukses, adrenalin saya juga seperti terpacu, semangat juga membara, merasa tantangan segar membias, jalan baru untuk lebih baik. Mana yang terjadi, entahlah...



Kamis, September 18, 2014

Dirty.. ugh!


Jangan mikir-mikir yang aneh-aneh dulu ya pas liat judulnya. Saya cuma mau sapu-sapu blog ini. Lama gak terjamah..(.hiks,hiks), tahun lalu terakhir main kesini.
Tenang teman-teman, saya gak pindahan kok, masih disini. Cuma terjebak aja sama situasi. M A L A S

Sebelumnya banyak yang pengen saya tulis, tapi tetap aja mogok. Mood-nya udah kayak berkarat. Nulis segini pendek-nya, segini-gak-jelas-nya aja, udah dipanggil-panggil sama tangisan bayi yang minta dikeloni. Jadi tahu aja kan ya gimana gak puasnya nulis dipotong-potong gitu. belok-belok, kemana-mana, gak jelas arahnya, hehe...

Salam sapa aja dulu kalo gitu ya, saya mau beres-beresin ide plus imajinasi saya dulu.

Senin, Desember 09, 2013

Story of My Life : Love Story Part One




Maybe you've had your heart broken one too many times, and you think it's easier to be a cynic. And every time you watch a fairytale moment in a movie, all you want to do is gag.

Tahu ini akan sesulit ini?

Ya…tahu dan paham dan pasti sudah memprediksi. 

Saya juga katakan itu pada suami saya, ketika ia bertanya.

Akhirnya pecah juga pertengkaran kami sebelum merayakan first anniversary kami. Buntut-buntutnya jadi begitu panjang. Kegoisan, labil dan keras kepala membuat kami masing masing terlempar pada satu titik terpedih dalam hidup kami, dan semoga tak ada yang kedua kalinya ( amiin, bukankah kami belajar)

Pernikahan kami, dilandasi dengan kesucian yang amat terjaga. Ta’aruf yang terjaga dan tanpa waktu lama. Apa ini keputusan yang terburu-buru. Kami sama-sama belum memiliki izin KUA untuk menikah (seharusnya). Tapi karena kami menikah bukan karena kecelakaan, baik-baik dan dianggap mampu, maka izin pun keluar. Suami saya begitu gantle, meminta diri saya langsung pada orang tua saya. Diterima atau tidak (oleh saya) dia sepenuhnya menyiapkan diri. Tapi tentu saja, tak ada alasan saya untuk menolak. Sungguh, apalagi orang tua saya mendukung penuh, seperti kata mereka, ‘menantu idaman didepan mata’.

Menantu idaman, karena ia bicara apa adanya ketika memperkenalkan diri. Ia menjunjung tinggi apa yang disebut kejujuran ( dan sekarang saya yang merasakannya), ia mapan dan tahu dapat diandalkan menjadi imam. seorang ustadz muda dengan suara yang merdu, gemar menghafal al-qur’an, ketekunan dalam bekerja, dan lain-lain yang membuat saya jatuh cinta. Tapi tetap, jatuh cinta pertama saya hadir dimalam pertama. Dimana ia membuat saya bergadang dengan lelucon-leluconnya. Manis, ceria, saya menyadari betapa ia masih sangat muda, tetap tidak kaku. Ah. Tapi sifat inilah yang memulai segalanya.

Saya ingat, seorang sahabat saya ketika diberi kabar bahwa saya dikhitbah, celetuknya justru

“Ah… gak mungkin… gak mungkin” hehe, ia tertawa dari bahasa bibirnya. Tahu bagaimana saya (yang mungkin) belum begitu pantas masuk ke jenjang pernikahan itu. Tapi itulah faktanya. Saya memilih menikah muda, dengan orang yang masih muda pula, dan jadilah kami sepasang jiwa kekanak-kanakan menyatu.

Hanya saja…

Saya tak sedang membela diri, tapi saya benar-benar berusaha semaksimalnya menjadi pribadi yang dewasa. Sekuat tenaga menjadi istri yang baik dan sejajar dengannya. Semuanya, saya lakukan dengan sungguh-sungguh. 

Masa-masa jatuh cinta kami jelas tak bisa pupus dihati saya. Kalau saya memungkiri anugrah Allah ini, maka betapa celakanya saya. Betapa ruginya saya. Nyaris dua bulan pernikahan kami, saya bisa memberinya kabar, bahwa buah cinta kami telah tumbuh. Saya hanya senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana ia bereaksi. Itu kenangan manis. Sekali lagi, kenangan manis. Dan setelah amanah dalam pekerjaannya bertambah, kami dihadiahkan rumah sederhana untuk berdua. Sederhana memang, tapi itulah rumah cinta. Apalagi dengan lingkungan yang begitu maksimalnya mendekatkan diri pada Allah. Cinta kami subur, tumbuh, saling membahagiakan dengan kemampuan kami. Tapi satu hal, kami masih kekanak-kanakan. Kami tetap tumbuh dengan jiwa yang ada diusia kami. Tak lantas dewasa dengan perkara ijab kabul itu…

To be continue...







Kamis, April 18, 2013

K_p_o_p




Dalam stok koleksi mp3 saya, saya hanya punya 3 folder. Murottal, Nasyid dan Korea. Murottal dan Nasyid itu oke, saya pikir semua akhwat dan ikhwan punya koleksi ini. Stok wajib dan kebutuhan. Lalu bagaimana dengan Kpop?

Well, saya bukannya mau membela diri. Saya bukan sekali dua kali mendapat peringatan mengenai koleksi ajaib saya ini. Akhwat kok sukanya girlband boyband gitu? Juga bukan satu dua orang akhwat yang mengikuti jejak langkah saya (ikhwan saya kurang tau -_-). 

Saya tidak bisa menilai dengan tepat apakah ini baik atau buruk sekali (red: berdosa). Sama salahnya kah seperti ketika kita pacaran? Sama salahnya kah seperti kita berjudi? Mencuri? Mencontek? Kalau saya pacaran, saya akan merasakan koneksi hati saya berdering. Gelisah, resah, gak tenang, tau lah kalau hal itu berdosa. Kalau saya mencontek saya juga merasakan hal yang sama. Pun, ketika saya mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia.  Lho?
Anehnya lagi, saya merasa baik-baik saja ketika mendengarkan lagu korea.
Ada yang tahu kenapa?

Tentu saja ini menjadi pertanyaan sendiri buat saya. Sebagai manusia yang berpikir dan hidup, lalu bernapas (apa urusannya coba sama topik ini…^_^‘), saya mulai mencari jawaban. Ini  bisa membantu teman-teman untuk ngeles kalau disinggung topik ini, meskipun saya yakin yang protes juga pasti banyak.

Jadi begini,
Saya menyukai lagu korea tepatnya adalah 3 tahun yang lalu.  Setelah lulus dari pondok pesantren. Lagu korea sendiri, di cap sebagai lagu jahiliyah, atau lagu kebodohan ketika kami masih berada disana. Stempel ini, diberikan juga untuk lagu-lagu pop western dan lagu Indonesia termasuk pop, dangdut, dsb. Jadi bisa dimengerti kalau kita mendengarkan lagu-lagu tersebut, maka kita akan kena iqob. So, semua terbawa sampai saat ini. Telinga saya, agak berdenging kalau mendengar lagu-lagu itu (Ahhaha.. lebay!)

Lalu, saya jatuh cinta pada lagu korea. Diantara semua lagu-lagu yang pernah saya dengar. Lagu korea adalah yang paling banyak menginspirasi untuk membuat saya menulis. Menulis apapun. Lebih tepatnya menumbuhkan imajinasi saya. Padahal dari semua tulisan saya, tema cinta hanya 1:20, sangat sedikit sekali. Sementara lagu korea mungkin 90 % adalah temanya cinta.
Well, bukan urusan liriknya yang membuat saya jatuh hati. Tapi urusan penyanyi, suara, latar dan harapannya yang sangat membantu. Masih bingung?

Jadi, setiap saya mendengar lagu korea yang menarik, hal yang pertama yang saya lakukan adalah mencari arti lagu tersebut. Dalam bahasa hanggul kemudian ditranslate ke English version kemudian akan saya bahasakan dalam bahasa Indonesia di kepala saya. 

Oh… jadi lagu ini tetang perpisahan dengan kekasih?
Oh… jadi lagu ini tentang sakit hati?
Oh..oh.. dan Oh, oh lainnya..

Nah, setelah itu, kalau memang tidak ada bahasa atau kalimat yang menyimpang, saya akan save lagu tersebut. Ketika saya akan menulis, saya pastikan sebagian besar lagu yang saya simpan tersebut sudah lupa temanya. Jadi saya hanya mendengarkan (dan memang sebagian saya hapal) dan memasukkan tema yang akan saya tulis ke dalam lagu itu. Semisal, hari itu saya sedang  dongkol dengan adik, saya akan mendengarkan lagu dengan nada yang emosinya memuncak, dapat deh fell nya. Padahal itu mungkin lagu tentang marah sama pacar kalau ditilik dari liriknya, tapi toh saya gak ngerti.

Contoh kedua, ketika saya sedang dilanda rindu dengan teman-teman di asrama. Saya setel lagu Day by Day punya SNSD. Lagunya cool, tentang cinta sebenarnya. Tapi saya masuk-masukin aja ke tema persahabatan. Dapat kok feel nya. Apalagi mereka syuting videonya di sebuah vila di pulau Jeju, mereka bangun tidur, makan reme-rame, curhat-curhatan. Saya gak tahu, ini emang saya yang pinter nyari feel nya atau memang, videonya yang salah syutingnya. Hehe..

Juga, kalau lagi saya patah semangat, saya setel lagu SNSD baby baby. Dari judulnya aja kalian udah tahu ka itu lagu tentang apa (Gak mungkin tentang bayi-bayi baru lahir). Tapi kalau nonton MV nya saya masuk-masukin aja tema tentang Cita-cita. Lagi pula mereka syutingnya, tentang mereka dapat penghargaan, waktu mereka mulai dari 0 sampai sukses. Saya juga lagi gak promosi SNSD loh. Kalau memang MV mereka lagi menyeramkan, ya gak usah ditonton, dengarkan aja lagu-lagunya lewat mp3, dapat juga kok feel nya Nah, sekali lagi saya ulangi ini,  gak tahu apa emang saya yang pinter nyari feel nya atau memang, videonya yang salah syutingnya. Hehe..

You are welcome…

Ini kan hanya persepsi saya…

Sabtu, April 13, 2013

Promise




Waaahh.. Alhamdulillah, ini persiapan ter—heboh, pusing, genting, and baik. The best!
aku mencoba menilik catatan perbaharuanku setahun yang lalu, dan Hei.. paling pol memang aku cuma menargetkan lulus tahun ini (semoga yang ini kesampaian juga ^_^). Tapi Alhamdulillah, rencana Allah benar-benar surprise sekali. Kejutan-kejutan ini, benar-benar kecil awalnya, tapi mendadak melebar dan membahagiakan, juga semoga akhirnya lancar. Rasa-rasanya, aku harus merevisi cita-citaku tahun ini. Nambah jadi 2 poin besar..Ahaha!

Cool! Awal tahun kemarin, aku bilang sama abah kalau aku ingin nikah di usia maksimal 23 tahun, sama murobbiku ngaku-ngaku pingin nikah 22,5 tahun (maju lagi kan…), tapi ternyata belum genap usia 22 tahun, Allah mengabulkannya.  Alhamdulillah..

Malam-malam harus terbangun gara-gara kepikiran packing-packingnya. Huaa.. kerasa banget lah. Jadi tidur jleb habis isya karena kecape’an, bangun tengah malam  ngetik undangan, bikin lovey-dovey-flower-bros buat panitia.  Hihi.. bener-bener dari hati ini buatnya.

Keingetan juga sempet bilang sama abah, supaya diizinin buat undangan sendiri, desainku sendiri, cetak-cetak sendiri, terus buat souvenir sendiri, terus fitting gaun sendiri. Untungnya dijitak sama abah, 

“Agenda ini bukan alasan untuk lulus telat!”

Euhh… jadi keingat deh sama skripsi lagi. Duh, iya..iya. Masa iya target awalku terbengkalai. Udah dua minggu yang lalu nih seminar. Tapi belum ada kemajuan. :(

Syukurnya adek-adek lagi pada ujian, praktikum libur. Yeyyeyy..
Tapi, tetep aja. Mereka gak manggil, laporannya yang teriak-teriak. Duh, minggu-minggu lalu aku kemana aja sih, sekarang kok jadi ribet gini, numpukkkk semua! Grrr.. :(

Satu lagi, yang membuatku bahagiaa sekali. Aku diizinkan untuk berangkat study tour, meskipun dengan waktu yang mepet, plus uang yang pas-pas an. Selain ngejar pengalaman, bisa nostalgia sama kawan SMA, siapa tahu dapat ide buat cerpen (Alasan sist..^^). Tak apa, rasanya silaturrahmi itu mahal memang.  Tak terbayar. Mereka adalah salah satu tokoh dalam pengalamanku, dan pengalaman adalah guru terbaikku.
Sungguh, ini sungguh membahagiakan. Bukan hanya saat yang tepat. Tapi hadirNya adalah disaat yang sangat tepat.. :)
. Alhamdulillah. I promise to You, Allah. To you all, my Dad and Mom, and to you, ….
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men