Tampilkan postingan dengan label Obsesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obsesi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 16, 2013

Amateur Writing Stories part 1


Jadi  penulis cerita itu punya banyak pengaruh gak sih? Seberapa besar? Besar gak kontribusinya untuk urusan dakwah? Kalau jadi da’I jelas ada. farmasis, dokter, guru, kontribusinya juga besar.

Oh lala….
Gak pernah ada yang ngelarang  saya jadi penulis, tentu saja gak pernah. Tapi nyentil-nyentil dikit, seriiinnng banget. #hemz

“ Zi… bantuin mba dagang dong. Lumayan, buat kamu belajar bisnis. Kan udah nikah…”
“Emm…,” entah kenapa aku cuma bisa bilang gitu lama banget.
“ Kenapa?”
“Nggak tau mba, perasaan saya ini gak pinter jualan, hehe…” Tahu kan! Pake ketawa hehe itu supaya mbanya ngerti kalau saya bercanda.
“Jadi apa dong pinternya? Berimajinasi yaaa?”

Wew… pilihan kalimatnya nyentil kan? Imajinasi… seolah-olah apa yang kamu tulis itu gak pernah nyata. Itu boongan semua…

Satu lagi kisah disentil masalah begini…
Waktu itu masih SMA…,
Massih di asrama. Asrama saya lumayan padat penduduknya. Segalanya gak bisa dilakukan secara diam-diam secara sempurna. Termasuk ketika saya mencari ide. Saya suka sekali mencari ide ketika sedang tidak fokus sama sekali di kelas, atau justru saat sangat focus menjelang tidur.

“Dek Fafa…,” panggil kakak kelas saya waktu itu.
“Ya mba…,”
“Saya takut kalau liat dek fafa mau tidur,”
“Lho kenapa?” tanya saya heran. Penasaran serta ikut ketakutan (takut sama jawabannya, ‘jangan-jangan saya kayak hantu kalau mau tidur)
“Dek fafa pasti melamun, gerakin tangan ke atas, ke bawah, ke samping, mulutnya komat-kamit…”

Haaaa??? Weleh-weleh… polos sekali mbak ku satu ini. Padahal aku sedang mencari sentuhan ide untuk cerita-ceritaku. Atau itu memang artinya saya melamun #hiks_parah_dong_kebiasaanku.

Satu lagi deh cerita… (satu-satu melulu nihhh)

Waktu itu saya lagi suntuk banget nih…suami baru saya ( Ciee ) lagi telponan sama sanak saudaranya yang lagi nan jauh di Lampung…
…ditengah perbincangan mereka saya tersentil.

“ istri kamu kerja nduk?”
“Nggak mba, masih kuliah. Kuliah nya gak rampung-rampung. Padahal udah mahasiswa semester atas…,” sindir suami saya , sambil ngelirik-ngelirik ke saya yang tampang pasang cuek alias ‘awas kamu nanti’
“Ooohh.. ya gak papa. Rencananya nanti mau kerja apa?”
“Harusnya siiihhh… ya jadi apoteker. Tapi bocahnya bilang mau jadi penulis aja mba, gak mau sibuk,” kali ini suami saya ngelirik sambil cengengesan. “Ceritanya mba, dia pernah jadi penulis waktu kecil. Menang lomba, bukunya diterbitkan, trus ngerasa banyak fansnya deh… habis itu sekali nerbitkan buku, berhenti deh. Lha yang ditulis cerita-cerita khayalan. Dongeng-dongen gitu mba…,”

Preettt… tak ayal cubitan melayang untuknya.

Itu sentilan-sentilan kecil. Belum lagi orang tua, haduh-haduh… geleng-geleng kepala aja saya.

“cita-cita kamu jadi apa?”
“jadi penulis...,”
“kalau gitu ngapain kuliah di farmasi?”

Euhhhh… mau tahu aja! Gondok yee

Itulah kenapa pertanyaan diatas saya utarakan, curhatan selanjutnya baru saya kasih tahu kenapa saya galau gini…

Jadi  penulis cerita itu punya banyak pengaruh gak sih? Seberapa besar? Besar gak kontribusinya untuk urusan dakwah? Kalau jadi da’I jelas ada. farmasis, dokter, guru, kontribusinya juga besar.
Jawabannya paling gak pasnya adalah
Jadi penulis itu melegakan, plong!

Sabtu, April 13, 2013

Promise




Waaahh.. Alhamdulillah, ini persiapan ter—heboh, pusing, genting, and baik. The best!
aku mencoba menilik catatan perbaharuanku setahun yang lalu, dan Hei.. paling pol memang aku cuma menargetkan lulus tahun ini (semoga yang ini kesampaian juga ^_^). Tapi Alhamdulillah, rencana Allah benar-benar surprise sekali. Kejutan-kejutan ini, benar-benar kecil awalnya, tapi mendadak melebar dan membahagiakan, juga semoga akhirnya lancar. Rasa-rasanya, aku harus merevisi cita-citaku tahun ini. Nambah jadi 2 poin besar..Ahaha!

Cool! Awal tahun kemarin, aku bilang sama abah kalau aku ingin nikah di usia maksimal 23 tahun, sama murobbiku ngaku-ngaku pingin nikah 22,5 tahun (maju lagi kan…), tapi ternyata belum genap usia 22 tahun, Allah mengabulkannya.  Alhamdulillah..

Malam-malam harus terbangun gara-gara kepikiran packing-packingnya. Huaa.. kerasa banget lah. Jadi tidur jleb habis isya karena kecape’an, bangun tengah malam  ngetik undangan, bikin lovey-dovey-flower-bros buat panitia.  Hihi.. bener-bener dari hati ini buatnya.

Keingetan juga sempet bilang sama abah, supaya diizinin buat undangan sendiri, desainku sendiri, cetak-cetak sendiri, terus buat souvenir sendiri, terus fitting gaun sendiri. Untungnya dijitak sama abah, 

“Agenda ini bukan alasan untuk lulus telat!”

Euhh… jadi keingat deh sama skripsi lagi. Duh, iya..iya. Masa iya target awalku terbengkalai. Udah dua minggu yang lalu nih seminar. Tapi belum ada kemajuan. :(

Syukurnya adek-adek lagi pada ujian, praktikum libur. Yeyyeyy..
Tapi, tetep aja. Mereka gak manggil, laporannya yang teriak-teriak. Duh, minggu-minggu lalu aku kemana aja sih, sekarang kok jadi ribet gini, numpukkkk semua! Grrr.. :(

Satu lagi, yang membuatku bahagiaa sekali. Aku diizinkan untuk berangkat study tour, meskipun dengan waktu yang mepet, plus uang yang pas-pas an. Selain ngejar pengalaman, bisa nostalgia sama kawan SMA, siapa tahu dapat ide buat cerpen (Alasan sist..^^). Tak apa, rasanya silaturrahmi itu mahal memang.  Tak terbayar. Mereka adalah salah satu tokoh dalam pengalamanku, dan pengalaman adalah guru terbaikku.
Sungguh, ini sungguh membahagiakan. Bukan hanya saat yang tepat. Tapi hadirNya adalah disaat yang sangat tepat.. :)
. Alhamdulillah. I promise to You, Allah. To you all, my Dad and Mom, and to you, ….

Rabu, Februari 13, 2013

Untuk setiap langkah, bersyukurlah!



Sebenarnya…
Semua proses pencarianku akan kembali pada suatu nilai yang pasti.. Al-Qur’an dan hadist.
Aku memikirkannya setiap menikmati semua proses tersebut

Belajarku, mimpiku, anganku, kesukaanku, kegiatanku, kesuksesan termasuk semua lawannya,
Apa yang tak kupelajari, apa yang tak pernah aku inginkan, apa yang tak pernah aku lakukan, apa yang tak pernah aku sukai,dan segala kegagalan yang pernah aku lewati,,


Misalkan,

Aku menyukai sebuah warna pink, alasannya tak pernah terbesit hanya karena dia enak dilihat, aku selalu menemukan nilai lebih untuk dicintai, dan sangat spesifik. Karena warna yang kusukai itu menenangkan, elegan dan menggambarkan betapa aku menyukai posisiku sebagai wanita, mencintai tanpa ingin mengeluh mengapa aku tak dilahirkan sebagai laki-laki yang kuat, atau seperti yang orang-orang tanpa sadar sering katakan “kamu enak laki-laki, lha aku perempuan, gak bisa ini itu..”

Sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan dan tidak ada di antara perhiasan dunia yang lebih baik daripada wanita yang sholihah.” (HR. Ibnu Majah)

Atau aku yang sangat menyukai lirik lagu The Boys SNSD
I know life is a mystery,
I’m gonna make history
I’m taking it from the start

Tak hanya kagum akan suara eksotis mereka. Lagunya yang sangat-sangat enak untuk didengar pas lagi malas, pas lagi bermusuhan dengan teman, pas lagi down lihat nilai keluar. Lagunya –kebetulan- mengenai kesepakatan mereka bersembilan untuk tampil menjadi terdepan. Karena kalau mereka tak bersembilan mereka tak mungkin bisa menyelesaikan lagu ini. Dan membuktikannya.

It’s not a fantasy,
This is right for me
Living it like a star

Percaya diri untuk menjadi pemuda yang mengambil inisiatif mengedepankan diri. Percaya diri untuk menjadi pemuda (pemudi) yang ideal dalam islam. Seperti berani mengambil langkah untuk maju skripsi duluan misalnya (bukan aku!, bukan aku!). Atau berani mengambil kesulitan untuk sesuatu yang lebih baik. Dan perkataan ini mengingatkanku pada kisah ashabul kahfi,

Dan dalam Al-Quran di dalam surah Al-Kahfi ayat 9-26, diantaranya: “(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat perlindungan (gua) lalu berdoa: ‘Wahai tuhan kami berikanlah rahmat depada kami dari sisi-Mu dan tolonglah kami dalam menempuh langkah yang tepat dalam urusan kami (ini) (10)…Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad saw) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang Pencipta) dan Kami beri mereka tambahan pimpinan (iman, taqwa, ketetapan hati dan sebagainya) (13).

Atau mengapa aku sangat benci mencontek dikelas. Padahal nilai abstrak mencontek tak hanya pada nilai di KHS membaik. Lebih kepada nilai kerja sama, nilai saling membantu yang lemah, nilai kekreatifan, nilai kearifan, nilai mengambil kesempatan, nilai memanfaatkan waktu, dan banyak nilai lainnya. Itu kenapa banyak orang menyukai proses ini, baik memberi contekan maupun menerima contekan. Bahkan pun, mereka yang mencontek belajar lebih keras dibandingkan aku, lebih pintar dan lebih baik dibandingkan aku.

Tapi tetap saja aku tak menyukai ini semua.

Aku memikirkannya kemudian menyadari ketidaksukaanku ini bukan hanya karena aku takut melanggar peraturan. Aku melakukannya karena aku ingin mendidik diriku untuk lebih berani mengambil keputusan dan ketegasan diri. Aku ingin memulai untuk bertindak tegas pada diriku sendiri, kemudian nilai jelek yang keluar bisa membuatku marah pada diri sendiri, bukan orang lain. Karena disisi lain, aku menyadari bahwa aku masih mewarisi sifat untuk menyalahkan orang lain. Right?

Selain itu, aku belajar bagaimana berani,
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Begitu juga tentang, Mmm…
Aku yang tidak berhasil kuliah di bidang bergengsi kedokteran. Atau tidak bisa menjadi mahasiswa dengan nilai ‘A’ mendominasi dan predikat teladan, atau menjadi seorang wanita secantik artis korea, atau uang melimpah seperti memiliki kebun uang. Semua itu ternyata menghubungkan dengan semua detil kehidupan dan sifat yang melekat padaku. Tentang aku yang masih suka menyombongkan diri, tentang aku yang masih tak bisa memegang amanah dengan baik, tentang nilai tanggung jawabku yang masih banyak harus kuselesaikan, tentang aku yang masih malas, tentang-tentang lainnya yang membuatku membuka mata.

Dan akhirnya, ini menjadikan nyaris semua pertanyaan-pertanyaan hidupku terjawab segera. Kecuali yang nyeleneh, aku masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan tersebut di hati dan menjawabnya dikemudian hari.

Jumat, Desember 21, 2012

My-loving-books



Selama berada di bangku kuliah, bisa dihitung jari berapa kali aku membeli novel. Jangan dikira novel tak berguna, hanya sebagai hiburan. Aku mendapat banyak pelajaran hidup dari novel, sangat banyak. Itu alasan alami yang ada kenapa aku lebih suka novel dibandingkan cerpen, buku pelajaran, buku non fiksi apalagi puisi. Rasanya seperti mengunyah silver queen, kita cari cokelatnya yang bisa berefek menenangkan tapi disisi lain kita dapat kacang dan karemal yang lembut (makanan lagi -_-‘). Itulah kenapa novel adalah proyek terbesar dalam status kerjaan ‘mengoleksi’ku.

Tapi semua berakhir saat kuliah. (1)Karena sibuk? Aaahh.. klasik!

(2)Jadi, gak ada uang? Hmm.. bisa jadi. Mungkin karena setiap mendapat tunjangan untuk membeli buku, yang terpikir di otakku adalah membeli buku kuliah yang tebalnya luar biasa. Yang ada di otakku selama kuliah adalah mengejar, memahami, menafsirkan, mengerjakan, mentransfer semua ilmu yang dapat. Belum sampai pada tahap ‘sangat’ menikmati seperti ketika menikmati Harry Potter atau novel lain. Gak ada yang bikin ketagihan. Semua dibaca saat butuh. Tok!

Dan alasan lain, adalah (3)aku kehilangan setengah dari semua koleksi bukuku? Ah alay!

Nggak! Ini serius. Setelah beberapa kali kehilangan koleksi, aku mulai rajin mencatat semua buku yang ku beli. Kadang-kadang orang yang pinjam pun aku catat.

Alay ya! Lebay! Hiperprotektif!” Mungkin gitu teriak buku-bukuku.
Nggak lah, itu karena aku sayang kalian! Sangat..sangat sayang!”
(Ternyata penulisnya memang Alay. ahaha)

Kalau ada waktu luang (semasa kuliah) karena koleksi novelku tidak bertambah, terpaksa aku menyibukkan diri membersihakan perpustakaan mini ku. Sambil melihat-lihat catatan bukuku yang tersisa dan yang hilang, aku sampai bisa menangis.
Ini bukan karena alay! Siapa yang tidak sedih kalau barang yang dicintainya hilang. Terlebih perjuangan dalam mengumpulkan semua koleksi itu. Apalagi kalau yang hilang buku kesayangan. Aku pasti kejar sampai dapat. Fuihh…huh!

Sejujurnya aku menyesal. Menyesal Karena sudah mencatat semua buku-bukuku.
Aku bisa menangis kalau mulai mendata buku-buku koleksi tapi ternyata hilang, atau –bahkan- aku menemukan bukuku dalam keadaan berdebu sangking lamanya tak tersentuh.

Tapi kemudian,
Alasan realitisnya mulai aku pertanyakan pada diri sendiri.

Memang koleksi buku kamu itu buat apa? Di bawa mati?
Ahh.. ya nggak dibawa mati memang sih. Tapi loh, itu benda kesayangan kita. Bayangin apapun yang kita sayang hilang, udah gak ada. Sedih kan?



Nah, kalau begitu niat kamu membeli buku itu kenapa?
Karena aku suka, aku pengen banget dapat pelajaran, pengalaman, ilmu dan cita-cita yang gak pernah aku dapatkan di kuliah, sekolah, organisasi, yah pokoknya selama aku menjalani hidup.

Buku-buku yang hilang itu udah kamu baca? Udah dapat hikmahnya?
Ya udahlah, pasti kan kalau habis beli langsung baca toh

Kalau gitu, buku yang hilang itu lebih bermanfaat di tangan orang lain. Efek bagusnya, Alhamdulillah kamu gak pelit minjamin buku ke orang. Kan ada tuh, orang yang pelit banget kalau pinjamin buku. Yang gak boleh kusut lah, gak boleh terlipat lah, gak boleh tercoret lah, pokoknya sampai ngalahin menjaga al-qur’annya aja.
Itu karena dia sayang bukunya kan. Lagian aku juga begitu. Siapa yang mau benda kesayangannya rusak, lecek. Huh!

Nah, kalau gitu sekarang ketemu masalahnya. Kalau terlalu takut buku atau benda kesayangan kamu itu rusak. Now, ubah pandangan kamu. Bayangkan setelah kamu mendapat hiburan dari buku kamu. Setelah mendapatkan hikmah, setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Buku itu berpindah tangan kepada orang yang juga menjaga buku itu. Menyampuli,membersihkannya dan mengambil hikmahnya. Bukannya menjatuhkan, merusak, merobek dan hal buruk lainnya.

Dalam diam aku terkejut dengan pikiranku sendiri. Dan sebelum aku mengakhiri dengan titik, aku ingin berucap mantap. Aku lega!


 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men