Jangan mikir-mikir yang aneh-aneh dulu ya pas liat judulnya. Saya cuma mau sapu-sapu blog ini. Lama gak terjamah..(.hiks,hiks), tahun lalu terakhir main kesini.
Tenang teman-teman, saya gak pindahan kok, masih disini. Cuma terjebak aja sama situasi. M A L A S
Sebelumnya banyak yang pengen saya tulis, tapi tetap aja mogok. Mood-nya udah kayak berkarat. Nulis segini pendek-nya, segini-gak-jelas-nya aja, udah dipanggil-panggil sama tangisan bayi yang minta dikeloni. Jadi tahu aja kan ya gimana gak puasnya nulis dipotong-potong gitu. belok-belok, kemana-mana, gak jelas arahnya, hehe...
Salam sapa aja dulu kalo gitu ya, saya mau beres-beresin ide plus imajinasi saya dulu.
Kamis, September 18, 2014
Senin, Desember 09, 2013
Story of My Life : Love Story Part One
17.31
Diposting oleh
Fauzia Sadia Dhanies
Maybe you've had
your heart broken one too many times, and you think it's easier to be a cynic.
And every time you watch a fairytale moment in a movie, all you want to do is
gag.
Tahu ini akan sesulit ini?
Ya…tahu dan paham dan pasti sudah memprediksi.
Saya juga katakan itu pada suami saya,
ketika ia bertanya.
Akhirnya pecah juga pertengkaran kami sebelum merayakan first anniversary kami. Buntut-buntutnya
jadi begitu panjang. Kegoisan, labil dan keras kepala membuat kami masing
masing terlempar pada satu titik terpedih dalam hidup kami, dan semoga tak ada
yang kedua kalinya ( amiin, bukankah kami belajar)
Pernikahan kami, dilandasi dengan kesucian yang amat
terjaga. Ta’aruf yang terjaga dan tanpa waktu lama. Apa ini keputusan yang
terburu-buru. Kami sama-sama belum memiliki izin KUA untuk menikah
(seharusnya). Tapi karena kami menikah bukan karena kecelakaan, baik-baik dan
dianggap mampu, maka izin pun keluar. Suami saya begitu gantle, meminta diri saya langsung pada orang tua saya. Diterima atau
tidak (oleh saya) dia sepenuhnya menyiapkan diri. Tapi tentu saja, tak ada
alasan saya untuk menolak. Sungguh, apalagi orang tua saya mendukung penuh,
seperti kata mereka, ‘menantu idaman didepan mata’.
Menantu idaman, karena ia bicara apa adanya ketika
memperkenalkan diri. Ia menjunjung tinggi apa yang disebut kejujuran ( dan
sekarang saya yang merasakannya), ia mapan dan tahu dapat diandalkan menjadi
imam. seorang ustadz muda dengan suara yang merdu, gemar menghafal al-qur’an, ketekunan
dalam bekerja, dan lain-lain yang membuat saya jatuh cinta. Tapi tetap, jatuh
cinta pertama saya hadir dimalam pertama. Dimana ia membuat saya bergadang
dengan lelucon-leluconnya. Manis, ceria, saya menyadari betapa ia masih sangat
muda, tetap tidak kaku. Ah. Tapi sifat inilah yang memulai segalanya.
Saya ingat, seorang sahabat saya ketika diberi kabar bahwa
saya dikhitbah, celetuknya justru
“Ah… gak mungkin… gak mungkin” hehe, ia tertawa dari bahasa
bibirnya. Tahu bagaimana saya (yang mungkin) belum begitu pantas masuk ke
jenjang pernikahan itu. Tapi itulah faktanya. Saya memilih menikah muda, dengan
orang yang masih muda pula, dan jadilah kami sepasang jiwa kekanak-kanakan
menyatu.
Hanya saja…
Saya tak sedang membela diri, tapi saya benar-benar berusaha
semaksimalnya menjadi pribadi yang dewasa. Sekuat tenaga menjadi istri yang
baik dan sejajar dengannya. Semuanya, saya lakukan dengan sungguh-sungguh.
Masa-masa jatuh cinta kami jelas tak bisa pupus dihati saya.
Kalau saya memungkiri anugrah Allah ini, maka betapa celakanya saya. Betapa ruginya
saya. Nyaris dua bulan pernikahan kami, saya bisa memberinya kabar, bahwa buah
cinta kami telah tumbuh. Saya hanya senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana
ia bereaksi. Itu kenangan manis. Sekali lagi, kenangan manis. Dan setelah
amanah dalam pekerjaannya bertambah, kami dihadiahkan rumah sederhana untuk
berdua. Sederhana memang, tapi itulah rumah cinta. Apalagi dengan lingkungan
yang begitu maksimalnya mendekatkan diri pada Allah. Cinta kami subur, tumbuh,
saling membahagiakan dengan kemampuan kami. Tapi satu hal, kami masih
kekanak-kanakan. Kami tetap tumbuh dengan jiwa yang ada diusia kami. Tak lantas
dewasa dengan perkara ijab kabul itu…
To be continue...
Sabtu, Oktober 26, 2013
Damai
23.19
Diposting oleh
Fauzia Sadia Dhanies
Tiba-tiba
menemukan senandung new seo heart - damai.
Mengerti atau tidak saya sedang perih, perih ini
seperti pegulangan, hanya saja lupa bagaimana mengamati setiap episode
kehidupan –yang- dimana mendadak berubah. Sekejap.
Berapa kali sudah saya katakan, banyak yang berubah
dalam sekejap.
Menjadi putri, menjadi istri lalu kemudian menjadi
seorang bunda. Tapi saya tetap wanita. Wanita dengan perasaan yang peka. Saya kadang
menyebutnya ‘lebay’, sebab kepekaan itu seolah-olah hanya milik saya. Namun perlahan,
saya menyadari, itu milik semua wanita. Hanya, saya yang terlalu kerdil.
Kalau begitu saya mintaa maaf,
Pada siapa?
Pada perasaan ini. Perasaan yang sakit karena egoisme
seorang diri.
Namun, petualangan lah yang membantu saya, beserta
ilmuNya.
Senin, September 23, 2013
Quotes of the days
02.30
Diposting oleh
Fauzia Sadia Dhanies
Akhirnya aku menemukanmu lagi bersama tinta yang bening di lautan
hikmah, berbaris kata-kata terukir basmalah, hamdalah dan tasbih atas
setiamu mengiringiku. Aku yang lelah, memintamu duduk, menatapku dan
mendengarkanku. Engkau yang indah, yang berdada lapang dan
berlembar-lembar wajah berwarnamu yang memancing rinduku. Setelah
padaNya, aku berlari padamu. Atau sembari berkeluh padamu, aku sedang
bicara padaNya. Kau akan menjadi sahabatku.. meski dipagi yang gigil,
siang yang terik, senja temaram, ataupun di malam suram. Kau akan
menjadi sahabatku..menjelajah hari-hariku, mendengarkan cerita2 ku..
dalam balutan tawa, canda, ataupun duka hatiku..
BLC
Selasa, Juli 16, 2013
Amateur Writing Stories part 1
07.46
Diposting oleh
Fauzia Sadia Dhanies
Jadi
penulis cerita itu punya banyak pengaruh
gak sih? Seberapa besar? Besar gak kontribusinya untuk urusan dakwah? Kalau jadi
da’I jelas ada. farmasis, dokter, guru, kontribusinya juga besar.
Oh
lala….
Gak pernah
ada yang ngelarang saya jadi penulis,
tentu saja gak pernah. Tapi nyentil-nyentil dikit, seriiinnng banget. #hemz
“ Zi…
bantuin mba dagang dong. Lumayan, buat kamu belajar bisnis. Kan udah nikah…”
“Emm…,”
entah kenapa aku cuma bisa bilang gitu lama banget.
“ Kenapa?”
“Nggak
tau mba, perasaan saya ini gak pinter jualan, hehe…” Tahu kan! Pake ketawa hehe itu supaya mbanya ngerti kalau saya
bercanda.
“Jadi
apa dong pinternya? Berimajinasi yaaa?”
Wew…
pilihan kalimatnya nyentil kan? Imajinasi… seolah-olah apa yang kamu tulis itu
gak pernah nyata. Itu boongan semua…
Satu
lagi kisah disentil masalah begini…
Waktu
itu masih SMA…,
Massih
di asrama. Asrama saya lumayan padat penduduknya. Segalanya gak bisa dilakukan
secara diam-diam secara sempurna. Termasuk ketika saya mencari ide. Saya suka
sekali mencari ide ketika sedang tidak fokus sama sekali di kelas, atau justru
saat sangat focus menjelang tidur.
“Dek
Fafa…,” panggil kakak kelas saya waktu itu.
“Ya
mba…,”
“Saya
takut kalau liat dek fafa mau tidur,”
“Lho
kenapa?” tanya saya heran. Penasaran serta ikut ketakutan (takut sama
jawabannya, ‘jangan-jangan saya kayak hantu kalau mau tidur)
“Dek
fafa pasti melamun, gerakin tangan ke atas, ke bawah, ke samping, mulutnya
komat-kamit…”
Haaaa???
Weleh-weleh… polos sekali mbak ku satu ini. Padahal aku sedang mencari sentuhan
ide untuk cerita-ceritaku. Atau itu memang artinya saya melamun #hiks_parah_dong_kebiasaanku.
Satu
lagi deh cerita… (satu-satu melulu nihhh)
Waktu
itu saya lagi suntuk banget nih…suami baru saya ( Ciee ) lagi telponan sama
sanak saudaranya yang lagi nan jauh di Lampung…
…ditengah perbincangan mereka saya tersentil.
…ditengah perbincangan mereka saya tersentil.
“ istri kamu kerja nduk?”
“Nggak mba, masih kuliah. Kuliah nya gak rampung-rampung. Padahal udah mahasiswa semester atas…,” sindir suami saya , sambil ngelirik-ngelirik ke saya yang tampang pasang cuek alias ‘awas kamu nanti’
“Ooohh..
ya gak papa. Rencananya nanti mau kerja apa?”
“Harusnya
siiihhh… ya jadi apoteker. Tapi bocahnya bilang mau jadi penulis aja mba, gak
mau sibuk,” kali ini suami saya ngelirik sambil cengengesan. “Ceritanya mba,
dia pernah jadi penulis waktu kecil. Menang lomba, bukunya diterbitkan, trus
ngerasa banyak fansnya deh… habis itu sekali nerbitkan buku, berhenti deh. Lha yang
ditulis cerita-cerita khayalan. Dongeng-dongen gitu mba…,”
Preettt…
tak ayal cubitan melayang untuknya.
Itu sentilan-sentilan
kecil. Belum lagi orang tua, haduh-haduh… geleng-geleng kepala aja saya.
“cita-cita
kamu jadi apa?”
“jadi
penulis...,”
“kalau
gitu ngapain kuliah di farmasi?”
Euhhhh… mau tahu aja! Gondok yee
Itulah
kenapa pertanyaan diatas saya utarakan, curhatan selanjutnya baru saya kasih
tahu kenapa saya galau gini…
Jadi
penulis cerita itu punya banyak pengaruh
gak sih? Seberapa besar? Besar gak kontribusinya untuk urusan dakwah? Kalau jadi
da’I jelas ada. farmasis, dokter, guru, kontribusinya juga besar.
Jawabannya
paling gak pasnya adalah
Jadi
penulis itu melegakan, plong!
Jumat, Juni 28, 2013
Siapa pun insan Tuhan Pasti tahu cinta kita sejati
20.06
Diposting oleh
Fauzia Sadia Dhanies
Film habibie dan Ainun merupakan film terpopuler di akhir tahun 2012. Mereka
bilang kisahnya romantis. Beberapa teman saya menontonnya berulang kali, mengisahkannya
sampai mengebu-ebu, membengkakkan mata mereka sendiri dengan menangis terus. Tapi
bahkan saat itu, masih tidak tersentuh dengan keharuan film tersebut. Kalian mengerti
betapa tidak pekanya saya kan. Tapi
kemudian saya mencoba lagi…
Habibie & Ainun
saling mengenal sejak usia remaja, berpisah di usia 72 tahun, karena yang satu
pergi, dipanggil yang lebih menyayanginya. Ketika Ibu Ainun jatuh sakit,
bertahun2 Pak Habibie merawatnya--meskipun dengan kondisi Ainun tidak lagi
mengenali Habibie. Lantas apa jawaban Habibie saat ditanya kenapa dia masih
terus merawatnya? "Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya mengenalnya
sebagai istri yang saya cintai"; Itu cinta selama 48 tahun, 10 hari, dan
boleh jadi kelak di akherat, tidak terhitung lagi lamanya.
(repost Darwis Tere
Liye)
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Film
ini tayang dan mulai menggegerkan pada tahun 2012. Waktu itu saya menonton di
bioskop bersama teman-teman dengan susah payah. Waktu itu pula, saya memaksa
ingin lebih menonton film ‘5 cm’ yang tayang pada waktu bersamaan dengan film
ini. Saya lebih suka tema persahabatan dalam setiap inspirasi saya. And the
last, saya menyerah karena pilihan terbanyak adalah ingin menyaksikan film
ini.
HABIBIE
& AINUN menceritakan perjalanan hidup bapak Habibie dan ibu Ainun.
Menjalani keluarga baru yang banyak kesulitan, adaptasi antar personal, ekonomi
yg belum mapan, tinggal di negeri orang lagi. Menonton film ini seperti
menyaksikan betul Pak Habibie dan Bu Ainun walaupun yang di depan mata Reza
Rahadian dan Bunga Citra Lestari. Film ini juga menjadi bentuk klarifikasi Pak
Habibie tentang kebijakan2 politiknya selama menjabat jadi presiden dulu. Pak
Habibie yang seorang ilmuwan seolah 'dipaksa' menjadi politisi dalam sistem
pemerintahan yang 'bobrok'. Pelajaran kecil lainnya kegagalan organisasi apapun
bukan karena orangnya, tapi bisa jadi 'the right
man in the wrong place', seperti kisahnya pak habibie ini. Dalam film ini
memperlihatkan beliau cuma punya cita2 satu, berdedikasi untuk tanah air dengan
menciptakan teknologi yang mutakhir. Salah satunya membuat pesawat yang aman
dan murah untuk menghubungkan 17.000 pulau di tanah air.
Nah,
saya mengingat bagaimana populernya film ini sampai membuat semua penonton di
bioskop terkesima, pulang dengan mata bengkak, menangis dan sesenggukan. Perbincangan
di kampus, media sosial, lingkungan sekitar tak habis-habisnya memuji betapa
romantisnya mereka berdua. Bahkan orang tua saya pun begitu. Teman-teman bahkan
sampai rela menonton ulang, dan menangis lagi.
Tapi
tidak saya..
Waktu
itu saya tidak menangis. Saya merasa, (saat itu) tidak punya alasan untuk
menangis. Kisah romantis ini banyak yang punya. Terlalu biasa bagi saya. Bahkan
saya memilih memposting cinta, dan
membuat cerita Rosulullah dan Khadijah lebih romantis (ini benar, tentu saja! Tapi
diposting saat film habibi ainun
sedang mengharu biru, ternyata rasanya aneh).
Saya
mulai merasa ada yang tidak beres dengan perasaan saya kala itu. Karena saya
sulit sekali tersentuh dengan hal-hal yang mengharukan. Sejak dulu. Sejak dulu
dan sejak dulu. Saya menyadarinya.
Tapi
semua semacam berputar saat saya menikah bulan lalu. Saya menyadari film ini
ternyata benar-benar indah. Setiap kisahnya benar-benar memukau. Saya seperti
baru terperangah. Soundtrack film ini
lebih-lebih lagi, membuat saya bisa mewek dan tak habis-habisnya. Sekarang saya
yang lebay…
Aku
tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau
tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Saya
suka setiap moment yang terkisahkan
dalam film ini. Ketika cinta pertama kali hadir diantara keduanya. Begitu cepat,
tapi nyata. Saat mereka memiliki waktu berdua, dan dunia memang milik mereka
berdua. Dan memang, dunia benar-benar milik berdua saat kita ditengah hamparan
cinta. Tak peduli kita berdua saat itu dimana, di sawah, di pegunungan, di
rumah sendiri, di atas motor atau bahkan di tengah keramaian.
Saya
terlebih senang melihat kebahagiaan kedua insan ini menunggu, melihat,
menghadapi, dan menjalani kehidupan sebagai orang tua. Penantian itu juga
sedang saya rasakan kali ini. Harunya memang menyeruak. Ini seperti berita yang
saya ingin seluruh dunia tahu, bahwa kami sedang bahagia. Haha..
Suara
sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat
aku dengar rindumu memanggil namaku
Untuk
segala permasalahan milik rumah tangga mereka juga memang menyentuh. Saya suka
sekali ketika ainun marah karena habibi tidak mau mengatur baik agenda
hariannya. Mengunci kamar sangking kesalnya. Itu pernah saya rasakan. Dulu saya
tak mengerti. Tapi kini bahkan, untuk adegan semacam itu saya bisa menangis. Saya
mengerti sekali bagaimana marahnya Ainun saat itu. Marah karena takut suatu
saat suaminya sakit.
Lembah
yang berwarna
Membentuk
melekuk memeluk kita
Dua
jiwa yang melebur jadi satu
Dalam
kesucian cinta
Ternyata
cinta sejati ada. Itu penilaian saya. Saya tentu merasa beruntung. Merasa sangat
beruntung malah. Berharap semua orang juga akan merasakannya. menikah diusia
muda, mendapat dukungan dari semua orang, kebahagiaan ini tentu bukan tanpa
kerikil. Apalagi kami masih labil. Tapi komitmen ternyata memenuhi semuanya. Ya,
cinta sejati itu ada. Coba saja…
Mengutip kata-katanya
Pak Habibie, "Kita sedang berada di gerbong yang sedang melewati
terowongan, gelap, bahkan kita tidak tahu kemana kita menuju, kapan kita akan
sampai. Tapi kita harus yakin, gerbong ini akan menuju cahaya, dan aku janji
akan membawamu ke cahaya itu.."
Dan
untuk adegan ainun sakit sampai ia meninggal tak usah ditanya bagaimana
sedihnya saat itu.
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

