Selasa, November 25, 2014

C-Ray


Cerai??
Pernikahan saya bahkan belum genap 2 tahun. Dan tentu saja kata itu memiliki hawa mengerikan tersendiri bagi naluri saya.

It's oke. Ini bukan tentang saya. Tentang kisah sepasang lain yang membuat saya kaget bertubi tubi.

Tapi tentang siapapun, cerai akan menakutkan bahkan untuk yang berusia puluhan tahun kebersamaannya. Sebab artinya akan ada sebuah luka menganga yang tergores. Minimal butuh pelampiasan yang amat sadis hanya untuk mengabaikan luka itu, bukan untuk melupakannya.

Satu hal yang membuat saya terkejut adalah, fenomena bahwa: pada akhirnya yang paling sering mengumbar foto mesra lah yang berakhir paling tragis. Apakah dulu mereka merasa sehidup semati sampai lupa pada kekurangan pasangan dan pura pura terkejut saat menerimanya. Bah., ratusan hari bukan waktu yang singkat, apalagi ribuan hari dan minggu. Kenapa harus menyerah ditengah jalan. Sungguh se tak sanggup itu
Kah?
Apa ada hubungannya? Mengumbar foto mesra dengan terpisahnya dua hati itu pada akhirnya? Entahlah, silahkan jawab masing masing. Saya pun tak tahu. Hanya saja bagi penonton seperti saya tentu terasa mengganjal.

Saya memang beberapa kali mendapat teguran secara tak langsung untuk tidak memasang foto mesra berdua dengan berbagai alasan. Tapi, begitulah manusia. Seperti butuh pengakuan diri, aktualisasi diri. Harus selfie mesra dengan alasan kepuasan saja. Loh, saya tak memungkiri itu. Entah setelah diposting apa alasan paling dalam nya, riya, pamer. Ahhh.. saya juga tergiur, tapi.. oh entahlah.

Rabu, November 19, 2014

November


Oh... welcome november

Selasa, November 04, 2014

Catatan fiksi-nyata



Siang mulai beranjak sore. Hari itu lelah kami berpadu cepat. Perjalanan panas antara Balikpapan-Samarinda rasanya begitu menggairahkan untuk tidur. Kecuali abah yang sedang asyiknya menemani pak supir bercakap-cakap.
Supir : Oh.. jadi baru menikahkan anak ya pak
Abah : iya pak, anak kedua. Masih kuliah pula, semester 7
Supir : Walah pak, jadi ini udah nikahan anak yang kedua ya? Gak sayang pak sama kuliahnya anak-anak?  
Abah : Sebenarnya nanggung pak rasanya. Yang kemarin, anak pertama kan mundur lulusnya, malah belum bisa lanjut untuk jenjang selanjutnya (lirikannya ‘nyaris’ menuju saya. Jadi ya, rasanya juga ‘nyaris’ nyucuk banget dihati, huhu)
Supir : Wah sayang sekali...
Abah : Yah.. nggak juga pak. Begitulah kalau jodoh sudah datang. Anak-anak saya ini kan perempuan. Kalau ada laki-laki sholeh yang datang meminta ya mau bagaimana lagi, harus diterima, tanpa alasan apapun, apalagi kalau masalahnya belum lulus. Bisa timbul fitnah nanti pak...

Saya : Eheheh #ngalem, #Wew

8 Bulan



Kenapa kebiasaan si kecil mulai berubah lagi?

And it makes me annoyed,

Sesungguhnya.. sebenarnya... aku sudah mengantuk sejak tadi. Tapi memang beginilah siklus tidur kami para ibu. Yakni tergantung bayinya, kapanpun ia ingin bangun, bangunlah kita, kapanpun ingin tidur, tidurlah kita. Kecuali para ibu berhasil me’lobi’ si bapak untuk ikut turun tangan mengurus bayi. Jadi bahasa kejamnya, si bapak akan mengurus bayi ketika bayi bangun,dan membiarkan ibu tidur lelap tanpa gangguan. Dan ketika bayi pun tidur, si ibu juga ikut terlelap disampingnya, huawaahh kejamnya...

Bahkan ketika  jam dinding sudah berdetak sepuluh kali, ia masih merayu- rayu dengan tangisannya untuk bermain. Seolah meminta berhenti untuk dikeloni. Terpaksa dan dengan sangat terpaksa aku menghentikan belaianku, mengajaknya bangun, menyalakan kembali lampu kamar, daaaan, tersebarlah senyumnya. Cerah dan meluluhkan. Tangannya bergerak-gerak lucu menatap kipas angin. Suara khas bayinya keluar membentuk nada sambil menggenggam jari jemari kakinya. Ia menatapku berkedip-kedip dengan matanya yang bening, lalu menambahkan senyumnya yang manis dan mempesona, untuk mengajakku bermain.

8 bulan sudah...

Menatap lekat wajah lucunya membuatku haru mendadak. Pertanyaan  pertanyaan yang bertahun-tahun lalu tak kian terjawab, rupanya dijawab kini.

are you my baby?

Mengingat dulu tangan bahagia ini mengangkatnya, ia masih sangat kecil dan lemah waktu itu. Lalu ia sudah mulai bisa tertawa, menggenggam tanganku. Oh, it’s so happy.  Selang bebarapa bulan kemudian kami menunggu gerak tengkurapnya, tak juga hadir, sabar tentu saja ada, tapi proses menunggu dengan gelisah itu lebih dominan. Kamu kenapa sayang? Malas kah? Atau tak mampu? Kenapa rasanya seperti menjudge si bayi ini. Pun ketika bulan ke 7 ia belum juga menampak rasa ingin merangkak, kami masih siap menunggu. Bagaimanapun proses perkembanganmu itu membahagiakan, membuat kami menunggu-nunggu. Sabar dan gelisah sudah diluap-luapkan pada suami lewat seluler, pun disuruh sabar dan jangan gelisah. Nasihat seperti ‘semua anak punya caranya sendiri, punya masanya sendiri untuk berkembang’ , semua itu tenggelam dengan kicauan mereka tentang ‘Loh, anakku sudah mulai tengkurap usia 2 bulan, sudah mulai merangkak usia 7 bulan’. Lalu gelisah lagi... it is me, Mom.

Now, 8 bulan

Apa aku yang salah? Stimulasi yang kuberikan tidak begitu baik? Aku banyak tidak belajar? Kebanyakan teori? Lalu harus belajar dari mana? Sampai-sampai godaan untuk membelikan dan menaikkan dia di ‘baby walker’ menggiurkan dibenakku. Tapi sisi lain sehatku masih bisa bergeming dan menggumamkan, “He is still eight months...”

Baiklah, fokus balik lagi.

Sementara aku berebah, si kecil duduk di sisiku, menepuk-nepukkan tangannya (dengan khas gaya bayi tentunya) dan aku bernyanyi.

“Kamu mau main apa sayang?”
Tak ada jawaban pasti keculi suara lucu dari mulutnya.

“Oke, Ayo tepuk tangan, anak yang sholeh..”

ia menggerakkan dua tangan mungilnya untuk dipertemukan didepan dada, mengikuti arahanku, done! Aku tersenyum. Sembari bernyanyi dan mengulanginya beberapa kali lagi.

“Selanjutnya, geleng-geleng ya nak...”

Kembali ia mengikuti arahanku, menggelengkan kepalanya tanpa aturan. Tawaku pecah. Lucu.

"Teriak ! Aaaaa.." aku mencontohkan. ia pun kembali mengikuti. Mulutnya bergerak melebar dan berucap, " Aaaaa" dengan ekspresi marah dibuat- buat

Stimulasi kecil ini sering diajarkan ammah2 yang mengajaknya bermain. Tepuk tangan, geleng-geleng, memeletkan lidah, memainkan bibir, kemudian kiss bye (boleh usul yang lain, hehe).

Puas rasanya melihat ia ikut tertawa juga.

“Kalau begitu terkhir, sebelum kita bobo. Daadaa sayang..”
Ia kemudian mengikuti tanganku yang melambai-lambai. Gerakannya ke segala arah. Membuatku makin terbahak-bahak.

“DAADAAA,..” ucapnya lamat dan jelas. Tentu saja membuatku surprise. Ia bahkan sudah bisa mengkuti ucapan sederhana itu. Kalau kemarin ia juga mengikutiku bicara “Nggak” dengan keras, lalu bunyi ‘toet-toet’ juga lumayan jelas, membuatku tersihir beberapa saat. Sebelum akhirnya rasa haru itu memuncak, menghadirkan setetes air bening di ujung mata. Tak  urung aku menciuminya bertubi-tubi.

Kali ini waktunya istirahat, aku mematikan lampu, menaruhnya kembali ditempat tidurnya, kemudian kembali pada epiode ‘keloni’. Ia masih mengeluarkan suara kecil membentuk sebuah nada lewat bibirnya. Lalu mengangakat jemari kakinya dan membiarkannya menyentuh mulutnya. Iamjinasiku bermain, membayangkan seolah ia bernyanyi sambil memegang mic, yaitu kakinya sendiri. Imajinasiku tak penting. Tapi melihatnya bergerak baik dan normal itu lebih membahagiakan. Sambil membelainya , aku mengucapkan terimakasih karena sudah banyak membuatku tertawa dan bahagia hari ini.


Yes, he is still eight months old

Pesan Singkat


Saya seperti bangun dari sebuah ketidaksadaran yang amat lama ketika menemukan sebuah pesan singkat dari suami saya.
Saya menunggu kesediaan kalian, bunda dan fajri untuk mendampingi saya disini...
Pada akhirnya pesan itu keluar. Entah bagaimana mendefinisikan perasaan saya saat itu; marah, terharu, kesal,sedih, takut dan rindu. Semua terwakilkan dalam getaran tangan saya dan setetes air mata disudut mata saya.  Emosi saya teraduk kala itu.

Sebab,
Ini sudah bulan kelima, usia anak saya bahkan sudah menuju 8 bulan. Masa-masa emas dimana ia hanya menggiring senyum semua orang yang memeluknya. Lucunya mengalahkan boneka manapun yang pernah dibeli semahal apapun. Tapi bahkan haru dan bahagia itu terbagi menjadi sesak dan rindu yang menggumpal karena harus berpisah dengan belahan hati. Terakhir suami saya melihat si kecil adalah ketika ia masih 2 bulan. Ia bahkan belum mampu merespon secara sempurna terhadap apa yang suami lakukan saat itu.

Dilematis dalam arti yang sesungguhnya. Akan dibawa pergi oleh laki-laki yang dirindui adalah angan terkeras saat ini, namun tak bisa juga dipungkiri, bahwa saya bahkan merasa takut. Takut pada dunia nyata, bahwa ini waktunya berjuang untuk sebuah realitas hidup yang sesungguhnya. Membayangkan bertahun-tahun kemudian seperti apa kiranya keluarga saya, membuat saya tak henti-hentinya merapal do’a. Harus memulai adaptasi dari nol, di sebuah tempat yang sungguh asing, bahkan mungkin karena lamanya tak bertemu, bisa jadi suami adalah salah satu dari sosok asing itu, adaptsi yang berat kiranya. Tapi menyesuaikan mimpi untuk bisa sukses, adrenalin saya juga seperti terpacu, semangat juga membara, merasa tantangan segar membias, jalan baru untuk lebih baik. Mana yang terjadi, entahlah...



Kamis, September 18, 2014

Dirty.. ugh!


Jangan mikir-mikir yang aneh-aneh dulu ya pas liat judulnya. Saya cuma mau sapu-sapu blog ini. Lama gak terjamah..(.hiks,hiks), tahun lalu terakhir main kesini.
Tenang teman-teman, saya gak pindahan kok, masih disini. Cuma terjebak aja sama situasi. M A L A S

Sebelumnya banyak yang pengen saya tulis, tapi tetap aja mogok. Mood-nya udah kayak berkarat. Nulis segini pendek-nya, segini-gak-jelas-nya aja, udah dipanggil-panggil sama tangisan bayi yang minta dikeloni. Jadi tahu aja kan ya gimana gak puasnya nulis dipotong-potong gitu. belok-belok, kemana-mana, gak jelas arahnya, hehe...

Salam sapa aja dulu kalo gitu ya, saya mau beres-beresin ide plus imajinasi saya dulu.

Senin, Desember 09, 2013

Story of My Life : Love Story Part One




Maybe you've had your heart broken one too many times, and you think it's easier to be a cynic. And every time you watch a fairytale moment in a movie, all you want to do is gag.

Tahu ini akan sesulit ini?

Ya…tahu dan paham dan pasti sudah memprediksi. 

Saya juga katakan itu pada suami saya, ketika ia bertanya.

Akhirnya pecah juga pertengkaran kami sebelum merayakan first anniversary kami. Buntut-buntutnya jadi begitu panjang. Kegoisan, labil dan keras kepala membuat kami masing masing terlempar pada satu titik terpedih dalam hidup kami, dan semoga tak ada yang kedua kalinya ( amiin, bukankah kami belajar)

Pernikahan kami, dilandasi dengan kesucian yang amat terjaga. Ta’aruf yang terjaga dan tanpa waktu lama. Apa ini keputusan yang terburu-buru. Kami sama-sama belum memiliki izin KUA untuk menikah (seharusnya). Tapi karena kami menikah bukan karena kecelakaan, baik-baik dan dianggap mampu, maka izin pun keluar. Suami saya begitu gantle, meminta diri saya langsung pada orang tua saya. Diterima atau tidak (oleh saya) dia sepenuhnya menyiapkan diri. Tapi tentu saja, tak ada alasan saya untuk menolak. Sungguh, apalagi orang tua saya mendukung penuh, seperti kata mereka, ‘menantu idaman didepan mata’.

Menantu idaman, karena ia bicara apa adanya ketika memperkenalkan diri. Ia menjunjung tinggi apa yang disebut kejujuran ( dan sekarang saya yang merasakannya), ia mapan dan tahu dapat diandalkan menjadi imam. seorang ustadz muda dengan suara yang merdu, gemar menghafal al-qur’an, ketekunan dalam bekerja, dan lain-lain yang membuat saya jatuh cinta. Tapi tetap, jatuh cinta pertama saya hadir dimalam pertama. Dimana ia membuat saya bergadang dengan lelucon-leluconnya. Manis, ceria, saya menyadari betapa ia masih sangat muda, tetap tidak kaku. Ah. Tapi sifat inilah yang memulai segalanya.

Saya ingat, seorang sahabat saya ketika diberi kabar bahwa saya dikhitbah, celetuknya justru

“Ah… gak mungkin… gak mungkin” hehe, ia tertawa dari bahasa bibirnya. Tahu bagaimana saya (yang mungkin) belum begitu pantas masuk ke jenjang pernikahan itu. Tapi itulah faktanya. Saya memilih menikah muda, dengan orang yang masih muda pula, dan jadilah kami sepasang jiwa kekanak-kanakan menyatu.

Hanya saja…

Saya tak sedang membela diri, tapi saya benar-benar berusaha semaksimalnya menjadi pribadi yang dewasa. Sekuat tenaga menjadi istri yang baik dan sejajar dengannya. Semuanya, saya lakukan dengan sungguh-sungguh. 

Masa-masa jatuh cinta kami jelas tak bisa pupus dihati saya. Kalau saya memungkiri anugrah Allah ini, maka betapa celakanya saya. Betapa ruginya saya. Nyaris dua bulan pernikahan kami, saya bisa memberinya kabar, bahwa buah cinta kami telah tumbuh. Saya hanya senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana ia bereaksi. Itu kenangan manis. Sekali lagi, kenangan manis. Dan setelah amanah dalam pekerjaannya bertambah, kami dihadiahkan rumah sederhana untuk berdua. Sederhana memang, tapi itulah rumah cinta. Apalagi dengan lingkungan yang begitu maksimalnya mendekatkan diri pada Allah. Cinta kami subur, tumbuh, saling membahagiakan dengan kemampuan kami. Tapi satu hal, kami masih kekanak-kanakan. Kami tetap tumbuh dengan jiwa yang ada diusia kami. Tak lantas dewasa dengan perkara ijab kabul itu…

To be continue...







Sabtu, Oktober 26, 2013

Damai




 Tiba-tiba menemukan senandung new seo heart - damai.

Mengerti atau tidak saya sedang perih, perih ini seperti pegulangan, hanya saja lupa bagaimana mengamati setiap episode kehidupan –yang- dimana mendadak berubah. Sekejap.

Berapa kali sudah saya katakan, banyak yang berubah dalam sekejap.

Menjadi putri, menjadi istri lalu kemudian menjadi seorang bunda. Tapi saya tetap wanita. Wanita dengan perasaan yang peka. Saya kadang menyebutnya ‘lebay’, sebab kepekaan itu seolah-olah hanya milik saya. Namun perlahan, saya menyadari, itu milik semua wanita. Hanya, saya yang terlalu kerdil.

Kalau begitu saya mintaa maaf,

Pada siapa?

Pada perasaan ini. Perasaan yang sakit karena egoisme seorang diri.

Namun, petualangan lah yang membantu saya, beserta ilmuNya.

Senin, September 23, 2013

Quotes of the days


Akhirnya aku menemukanmu lagi bersama tinta yang bening di lautan hikmah, berbaris kata-kata terukir basmalah, hamdalah dan tasbih atas setiamu mengiringiku. Aku yang lelah, memintamu duduk, menatapku dan mendengarkanku. Engkau yang indah, yang berdada lapang dan berlembar-lembar wajah berwarnamu yang memancing rinduku. Setelah padaNya, aku berlari padamu. Atau sembari berkeluh padamu, aku sedang bicara padaNya. Kau akan menjadi sahabatku.. meski dipagi yang gigil, siang yang terik, senja temaram, ataupun di malam suram. Kau akan menjadi sahabatku..menjelajah hari-hariku, mendengarkan cerita2 ku.. dalam balutan tawa, canda, ataupun duka hatiku..
 
BLC

Selasa, Juli 16, 2013

Amateur Writing Stories part 1


Jadi  penulis cerita itu punya banyak pengaruh gak sih? Seberapa besar? Besar gak kontribusinya untuk urusan dakwah? Kalau jadi da’I jelas ada. farmasis, dokter, guru, kontribusinya juga besar.

Oh lala….
Gak pernah ada yang ngelarang  saya jadi penulis, tentu saja gak pernah. Tapi nyentil-nyentil dikit, seriiinnng banget. #hemz

“ Zi… bantuin mba dagang dong. Lumayan, buat kamu belajar bisnis. Kan udah nikah…”
“Emm…,” entah kenapa aku cuma bisa bilang gitu lama banget.
“ Kenapa?”
“Nggak tau mba, perasaan saya ini gak pinter jualan, hehe…” Tahu kan! Pake ketawa hehe itu supaya mbanya ngerti kalau saya bercanda.
“Jadi apa dong pinternya? Berimajinasi yaaa?”

Wew… pilihan kalimatnya nyentil kan? Imajinasi… seolah-olah apa yang kamu tulis itu gak pernah nyata. Itu boongan semua…

Satu lagi kisah disentil masalah begini…
Waktu itu masih SMA…,
Massih di asrama. Asrama saya lumayan padat penduduknya. Segalanya gak bisa dilakukan secara diam-diam secara sempurna. Termasuk ketika saya mencari ide. Saya suka sekali mencari ide ketika sedang tidak fokus sama sekali di kelas, atau justru saat sangat focus menjelang tidur.

“Dek Fafa…,” panggil kakak kelas saya waktu itu.
“Ya mba…,”
“Saya takut kalau liat dek fafa mau tidur,”
“Lho kenapa?” tanya saya heran. Penasaran serta ikut ketakutan (takut sama jawabannya, ‘jangan-jangan saya kayak hantu kalau mau tidur)
“Dek fafa pasti melamun, gerakin tangan ke atas, ke bawah, ke samping, mulutnya komat-kamit…”

Haaaa??? Weleh-weleh… polos sekali mbak ku satu ini. Padahal aku sedang mencari sentuhan ide untuk cerita-ceritaku. Atau itu memang artinya saya melamun #hiks_parah_dong_kebiasaanku.

Satu lagi deh cerita… (satu-satu melulu nihhh)

Waktu itu saya lagi suntuk banget nih…suami baru saya ( Ciee ) lagi telponan sama sanak saudaranya yang lagi nan jauh di Lampung…
…ditengah perbincangan mereka saya tersentil.

“ istri kamu kerja nduk?”
“Nggak mba, masih kuliah. Kuliah nya gak rampung-rampung. Padahal udah mahasiswa semester atas…,” sindir suami saya , sambil ngelirik-ngelirik ke saya yang tampang pasang cuek alias ‘awas kamu nanti’
“Ooohh.. ya gak papa. Rencananya nanti mau kerja apa?”
“Harusnya siiihhh… ya jadi apoteker. Tapi bocahnya bilang mau jadi penulis aja mba, gak mau sibuk,” kali ini suami saya ngelirik sambil cengengesan. “Ceritanya mba, dia pernah jadi penulis waktu kecil. Menang lomba, bukunya diterbitkan, trus ngerasa banyak fansnya deh… habis itu sekali nerbitkan buku, berhenti deh. Lha yang ditulis cerita-cerita khayalan. Dongeng-dongen gitu mba…,”

Preettt… tak ayal cubitan melayang untuknya.

Itu sentilan-sentilan kecil. Belum lagi orang tua, haduh-haduh… geleng-geleng kepala aja saya.

“cita-cita kamu jadi apa?”
“jadi penulis...,”
“kalau gitu ngapain kuliah di farmasi?”

Euhhhh… mau tahu aja! Gondok yee

Itulah kenapa pertanyaan diatas saya utarakan, curhatan selanjutnya baru saya kasih tahu kenapa saya galau gini…

Jadi  penulis cerita itu punya banyak pengaruh gak sih? Seberapa besar? Besar gak kontribusinya untuk urusan dakwah? Kalau jadi da’I jelas ada. farmasis, dokter, guru, kontribusinya juga besar.
Jawabannya paling gak pasnya adalah
Jadi penulis itu melegakan, plong!

Jumat, Juni 28, 2013

Siapa pun insan Tuhan Pasti tahu cinta kita sejati


Film habibie dan Ainun merupakan film terpopuler di akhir tahun 2012. Mereka bilang kisahnya romantis. Beberapa teman saya menontonnya berulang kali, mengisahkannya sampai mengebu-ebu, membengkakkan mata mereka sendiri dengan menangis terus. Tapi bahkan saat itu, masih tidak tersentuh dengan keharuan film tersebut. Kalian mengerti betapa  tidak pekanya saya kan. Tapi kemudian saya mencoba lagi…
Habibie & Ainun saling mengenal sejak usia remaja, berpisah di usia 72 tahun, karena yang satu pergi, dipanggil yang lebih menyayanginya. Ketika Ibu Ainun jatuh sakit, bertahun2 Pak Habibie merawatnya--meskipun dengan kondisi Ainun tidak lagi mengenali Habibie. Lantas apa jawaban Habibie saat ditanya kenapa dia masih terus merawatnya? "Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya mengenalnya sebagai istri yang saya cintai"; Itu cinta selama 48 tahun, 10 hari, dan boleh jadi kelak di akherat, tidak terhitung lagi lamanya.
(repost Darwis Tere Liye)
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

Film ini tayang dan mulai menggegerkan pada tahun 2012. Waktu itu saya menonton di bioskop bersama teman-teman dengan susah payah. Waktu itu pula, saya memaksa ingin lebih menonton film ‘5 cm’ yang tayang pada waktu bersamaan dengan film ini. Saya lebih suka tema persahabatan dalam setiap inspirasi saya.  And the last, saya menyerah karena pilihan terbanyak adalah ingin menyaksikan film ini.

HABIBIE & AINUN menceritakan perjalanan hidup bapak Habibie dan ibu Ainun. Menjalani keluarga baru yang banyak kesulitan, adaptasi antar personal, ekonomi yg belum mapan, tinggal di negeri orang lagi. Menonton film ini seperti menyaksikan betul Pak Habibie dan Bu Ainun walaupun yang di depan mata Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari. Film ini juga menjadi bentuk klarifikasi Pak Habibie tentang kebijakan2 politiknya selama menjabat jadi presiden dulu. Pak Habibie yang seorang ilmuwan seolah 'dipaksa' menjadi politisi dalam sistem pemerintahan yang 'bobrok'. Pelajaran kecil lainnya kegagalan organisasi apapun bukan karena orangnya, tapi bisa jadi 'the right man in the wrong place', seperti kisahnya pak habibie ini. Dalam film ini memperlihatkan beliau cuma punya cita2 satu, berdedikasi untuk tanah air dengan menciptakan teknologi yang mutakhir. Salah satunya membuat pesawat yang aman dan murah untuk menghubungkan 17.000 pulau di tanah air.


Nah, saya mengingat bagaimana populernya film ini sampai membuat semua penonton di bioskop terkesima, pulang dengan mata bengkak, menangis dan sesenggukan. Perbincangan di kampus, media sosial, lingkungan sekitar tak habis-habisnya memuji betapa romantisnya mereka berdua. Bahkan orang tua saya pun begitu. Teman-teman bahkan sampai rela menonton ulang, dan menangis lagi.

Tapi tidak saya..
Waktu itu saya tidak menangis. Saya merasa, (saat itu) tidak punya alasan untuk menangis. Kisah romantis ini banyak yang punya. Terlalu biasa bagi saya. Bahkan saya memilih memposting cinta, dan membuat cerita Rosulullah dan Khadijah lebih romantis (ini benar, tentu saja! Tapi diposting saat film habibi ainun sedang mengharu biru, ternyata rasanya aneh).
Saya mulai merasa ada yang tidak beres dengan perasaan saya kala itu. Karena saya sulit sekali tersentuh dengan hal-hal yang mengharukan. Sejak dulu. Sejak dulu dan sejak dulu. Saya menyadarinya.

Tapi semua semacam berputar saat saya menikah bulan lalu. Saya menyadari film ini ternyata benar-benar indah. Setiap kisahnya benar-benar memukau. Saya seperti baru terperangah. Soundtrack film ini lebih-lebih lagi, membuat saya bisa mewek dan tak habis-habisnya. Sekarang saya yang lebay…

Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Saya suka setiap moment yang terkisahkan dalam film ini. Ketika cinta pertama kali hadir diantara keduanya. Begitu cepat, tapi nyata. Saat mereka memiliki waktu berdua, dan dunia memang milik mereka berdua. Dan memang, dunia benar-benar milik berdua saat kita ditengah hamparan cinta. Tak peduli kita berdua saat itu dimana, di sawah, di pegunungan, di rumah sendiri, di atas motor atau bahkan di tengah keramaian.

Saya terlebih senang melihat kebahagiaan kedua insan ini menunggu, melihat, menghadapi, dan menjalani kehidupan sebagai orang tua. Penantian itu juga sedang saya rasakan kali ini. Harunya memang menyeruak. Ini seperti berita yang saya ingin seluruh dunia tahu, bahwa kami sedang bahagia. Haha..

Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Untuk segala permasalahan milik rumah tangga mereka juga memang menyentuh. Saya suka sekali ketika ainun marah karena habibi tidak mau mengatur baik agenda hariannya. Mengunci kamar sangking kesalnya. Itu pernah saya rasakan. Dulu saya tak mengerti. Tapi kini bahkan, untuk adegan semacam itu saya bisa menangis. Saya mengerti sekali bagaimana marahnya Ainun saat itu. Marah karena takut suatu saat suaminya sakit.

Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesucian cinta

Ternyata cinta sejati ada. Itu penilaian saya. Saya tentu merasa beruntung. Merasa sangat beruntung malah. Berharap semua orang juga akan merasakannya. menikah diusia muda, mendapat dukungan dari semua orang, kebahagiaan ini tentu bukan tanpa kerikil. Apalagi kami masih labil. Tapi komitmen ternyata memenuhi semuanya. Ya, cinta sejati itu ada. Coba saja…

Mengutip kata-katanya Pak Habibie, "Kita sedang berada di gerbong yang sedang melewati terowongan, gelap, bahkan kita tidak tahu kemana kita menuju, kapan kita akan sampai. Tapi kita harus yakin, gerbong ini akan menuju cahaya, dan aku janji akan membawamu ke cahaya itu.."

Dan untuk adegan ainun sakit sampai ia meninggal tak usah ditanya bagaimana sedihnya saat itu.

Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men