Minggu, Mei 31, 2015

24


Nah... di fase baru ini saya mau bilang, Alhamdulillah. Banyak-banyak syukur tak terkira. Pada Allah tempat memintaku, pada Rasul dan sahabat sebagai teladanku. Pada sosok sosok yang silih berganti hadir dalam hidupku, memberikan senyum, tangis, tawa dan lelah. Sosok sosok itu selalu berubah dari proses ke proses, dari episode satu ke episode lain.

Saya suka tutup muka merasa malu, mengingat ingat masa SMP yang masih lugu lugunya. Bahagia, menyenangkan, mengenangkan, tapi masih lugunya. Masih menyisakan kemanjaan ala anak anak yang butuh perhatian. Lalu SMA saya sudah mulai berproses, menyadari bahwa kemandirian itu penting, berusaha sekuat tenaga meninggalkan rasa manja yang menjadi bagian dari kebiasaan hidup. Beraat... saya ingat itu. Tapi jauh lebih berat proses pendewasaan di bangku kuliah. Prosesnya memakan banyak korban perasaan. Ada saja perasaan ingin menyerah. Saya benar benar merutuki masalah masalah yang hadir karena semakin banyak terjalnya. Berkelok kelok dan kadang tersesat. Hikmahnya seperti saya petik selangkah dua langkah saja. Selebihnya, saya sering terpukul oleh banyaknya amanah dan masalah. Fase Setelahnya, yakni menikah ,adalah proses yang tak kalah beratnya. Tapi di momen inilah saya jauh lebih bersahabat. Langkah saya jauh lebih mantap. Airmata yang mengalir sebanding dengan mengalirnya hikmah, benar... kalau dibuat novel mah, saya belum sanggup sangking banyaknya hikmah yang terisi dikepala saya (gak sesuai sama kemampuan saya, hi).

Dan proses ini belum selesai sampai detik saya menjadi 24th ini. Saya tau, saya mengerti, ini bukan usia yang muda. Menjadi labil, dan menangis adalah hal biasa kalau kita sudah sampai tahap ini, tapi ini sebanding lurus sama rasa syukur kita tiap bersujud. Pokoknya luar biasa. Luar biasa karena saya merasa berproses jauh lebih kuat, lebih stabil, lebih sabar dan lebih menikmati hidup. Saya mah masih belajar, jadi bukan berarti kekuatan saya itu menjadikan saya sang superwomen, supermom, superwife, Nooo!!!!

Fase menjadi ibu, hiks.
Saya gak menyangka, akhirnya penyemangat saya muncul. Dia seperti hero hero dalam film kepahlawanan yang muncul di klimaks plot yang sedang dalam masa keputusasaan. Karena cuma hadir nya saja, saya bisa benar benar merasa hidup. Saya benar benar bergumam setiap saat. "Oh... so its the real life". Padahal mah belom. Wkwk. Lalu sesaat aja, saya bisa merasa pengen punya banyak. Iya, pengen punya banyak hero. Jiakaka.

Tapi proses ini membuat saya jadi merasa, Mmm...."manusia banget". Oh
. Entahlah... kalau saya suka ngisengin yang muda, itu karena saya sudah pernah pada proses tersebut, iya, proses waktu masih muda (jadi merasa tua banget). Ngebully Adek, nggodain yang jomblo, ngerjain yang lagi heboh skripsi, nggombalin yang gemesan sama bayi, ngehitung tanggal tua, etc . itu semata karena sisi lain saya yang usil.

Pokoknya 24th belum apa apa. Tahun depan 25th (Alhamdulillah, kalau sampai ya :p ) baru lah yang kencangkan ikat kepala. Sekarang udah pasang, tapi masih longgar. Tahun depan (lagi-lagi kalau sampai) sudah harus musnah sifat manja dan jauh lebih mandiri. Apalagi kalau sudah 2 atau bahkan 3 pasang tangan
menggelanyot manja pada saya. Itu artinya  ini misi diproses 24th.

semua ibu baru (Saya curhat dulu ya), pasti pernah mengalami hal ini kan. Galau saja terbawa suasana. Apalagi kalau senior kita yang sudah sangat amat sangat senior (ngerti kan maksudnya) buka suara dan aksi. Hari pertama melahirkan sudah disodori sufor, hari hari menyabarkan di 6 bulan asi ekslusif ada Aja yang gemes pengen kasih Mpasi duluan, cibiran halus juga ngena waktunya perjuangan MPASI, "masa, makanan anaknya hambar banget, emaknya  pelit banget gak mau kasih gulgar, terlalu phobia".
"teruus... si anak kok proses merangkaknya, jalannya, lambat banget T_T (mirip emak bapaknya), yang lain 7 bulan udah jalan, 8 bulan udah lari" #hedehh.
"Anaknya kurusan sekarang, tambah hitam lagi, ihhh, emaknya pelit ya kasih makan" #hedehhedeh.
Ada lagi komentar  "Supaya gak bosen, supaya update sambil ngemong, sambil menyusui, pegang gadget dong" #hedehhedehhedehhedeh
Tapi yang paling keren dan mempesona adalah nasihat ini
"Udah dik, abaikan komentar sumbang disekitarmu. Percaya aja sama naluri keibuan kamu" #yess

Ya Allah, Ya Robbi, tapi sampai sini gak mengurangi rasa syukur saya sepeser pun kok, atas apapun, atas takdir yang manapun, meskipun dan meskipun, masalah ini belum ada apa apanya sama masalah masalah didepan. Masih banyak jejak galau yang harus saya beresin sebagai pemula ini. Sakitnya si anak kalau lagi kena demam, flu, batuk yang ngajakin bergadang, NWP yang ternyata gak mudah mudah banget, belum lagi menghitung bulan dan persiapan menyapih yang pake rumus WWL. Wow... amazing banget. Tapi syukur, bahagia dan sabar jadi teman baik selama ini, biar gak keteteran apa yang namanya butuh proses itu

Well done, terakhir... sebagai wujud bahagia saya , ada yang pengen saya ingatkan. Pernah gak sih, pernah tidak merasa takjub setakjub takjub nya kita akhirnya bisa melewati semua rasa takut kita ini. Buat saya aja yang sudah melewati 24th. Duluu yang ketakutan menghadapi banyak hal, pertama kali jadi kakak, pertama kali masuk sekolah, pertama kali masuk asrama, pertama kali jauh dari orang tua, pertama kali ketemu teman kuliah, pertama kali ngadepin dosen, dan pertama tama nya, yang ternyata Alhamdulillah kita lewati hingga saat ini. Meskipun dilewatinya dengan sangat dilematis, penuh air mata dan pengorbanan, tapi toh kita berhasil. Gak ada kepikiran apalagi nekat sampai pengen terjun dari jembatan mahakam untuk mengakhiri semua masalah. Padahal kita pernah menghadapi nyaris rasa putus asa. Di ranjang, menangis tersedu sedu, melempar apapun yang ada dijangkauan, atau marah pada siapapun yang mendekat. Wahh.. ternyata semuanya hanya proses, dan kebutuhan untuk mendalami dan memahami proses menjadi dewasa. Itu saja. Alhamdulillah ala kulli hal.

Ttd
Ibu rumah tangga

Selasa, Maret 03, 2015

Selfie


#empet

"Bukannya sedang dalam proses ya, kok masih suka selfie gitu sih. Plus gaya gaya mencle menclenya masih dipake, ayo dong,, yang anggun ukhti... yang anggun. Jaga wibawa kamu, muslimah kan? Jadi kan cantikmu untuk yang terkhusus buat suami kamu nanti,..."

"Kan masih proses. Belum ada yang ngelarang.. belum akad jeng. Hehehe."

"Oh... jadi masih "for sale" gitu yaa?"

#uhk...

Maaf kalau ada yg tersinggung ya, tapi niatnya memang untuk menyinggung. Alias menasihati tidak secara langsung. Tak apa, semua orang butuh berproses, termasuk saya, dari yang gak tau jadi faham. Asal... ketika sudah tau ilmunya, sudah faham bahayanya, langsung diikhtiarkan. Jangan nunggu 'kejeduk' baru sadar sayang.

Kamis, Februari 19, 2015

Wedding day


Pernikahan kalian sempurna?
Atau bagi yang belum menikah? Pernikahan sempurna seperti apa yang kalian harapkan.?

Kita tak pernah benar benar puas dengan acara pernikahan kita...
Tapi kita juga tak pernah benar benar menyesal dengan acara pernikahan tersebut...

Ada yang menyesal karena pernikahannya tak bisa semegah yang ia bayangkan
Ada yang menyesal karena pernikahannya tak sekreatif yang ia inginkan
Pun ada yg menyesal karena pernikahannya tak seislami yang ia rindukan, sebab bertabur lagu jahiliyah, make up yang tebal, baju yang tak menutup aurat.

Pernah membayangkan bagaimana acara jamuan pernikahan Nabi Alaihisalam  dan para sahabat Rodhiyallahuanhu? Semegah apa? Sekhusyuk apa?

Tapi dari sekian penyesalan, bersyukurlah pada doa doa para hadirin yang mengharap keberkahan atas pernikahan kalian. Sebab adanya laki laki yang dikirim Allah untuk menyempurnakan dien mu dan menggandengmu menuju syurga bukan sekedar mencintaimu dengan nafsu atas kecantikan dirimu, keelokan tubuhmu, keindahan suaramu, dan pilihan duniawi lainnya, maka bersyukurlah. Semoga keberkahan atas pernikahan kita tetap terjaga.

Senin, Februari 16, 2015

Menyerah


Sudah beberapa kali pikiran menyerah itu terlintas, tapi kemudian pupus dalam hitungan jam. Seperti itulah perempuan merasa. Setan seperti tak henti hentinya menyiram minyak dalam api amarah ini. Selalu mampu kau redamkan...
Kenapa pikiran pikiran picik ini muncul menyerah. Sungguh aku takut ia datang  di saat yang tak tepat.
Bahkan setiap hikmah yang hadir atas setiap kesabaran dan rasa syukur yg kita miliki, pernah sempat pupus dalam hati dan membuat kita rapuh.
Sungguh, andai cinta ini bukan karena Allah, andai rasa cinta hadir bukan karena Allah yg menghadirkan, pasti aku sudah menyerah. Tapi Allah Maha Kuasa, Maha mencintai, dan mengembalikan rasa cinta itu disaat yang tepat. Aku tahu betapa beruntungnya Allah menetapkan diriku sepertimu, betapa peruntungannya dicintai dirimu dan betapa beruntungnya mencintaimu.

Jumat, Februari 06, 2015

Satu Tahun


Bismillah...

Walhamdulillah...

Genap setahun sudah.

Menjadi orang tua dan tertatih tatih. Belajar dan terus berjalan hingga kelak mampu berlari.

Tak ada kata-kata yang mampu mewakili derasnya rasa bahagia yang kami miliki. Setiap untaian doa yang terucap dalam benak kami, semoga menjadi saksi rasa syukur atas karunia Allah.

Semoga Allah menetapkan takdir yang baik untukmu nak, hingga kini, hingga kelak, hingga waktu yang terbatas. Menjadikanmu salah satu jajaran dari anak anak sholeh yang mempu mempertemukan kita semua di syurga, juga menjadi jalan terbaik untuk ayah dan bunda di akhirat kelak, Amiin.

Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al Furqon: 74)

Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat pada Allah ‘azza wa jalla.” Perkataan semacam ini juga dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/333)

Farhan Burhanul Fajri, Barokallah fii umrik, ya bunayya.

Ayah & Bunda

Rabu, Januari 28, 2015

Takdir


Baru sebulan, well manisnya sampai ke ubun ubun #weksslebayy..
Lalu percakapan semalam milik suami dan sahabatnya lewat telpon menggoyahkan hati.
Percakapan itu saling terhubung dengan permintaan suami beberapa waktu lalu tentang keinginannya untuk bisa tallaqi di negri para Rasul.
"Mumpung ada kesempatan," ujarnya.
Tentu saja aku menolak. Bayangkan, kita bahkan baru sebulan bisa bersama, jauh lebih banyak waktu yg dihabiskan untuk berpisah. Dan harus diakui, memiliki bayi, lalu LDR dijalani, itu sulit.
Tapi begitulah, percakapan semalam yang tak sengaja terdengar membuatku memikirkannya lebih jauh lagi.

"Pengennya yang di mekkah syeikh, soalnya.. bla...bla..."
"Apapun itu, saya doakan yg terbaik untuk antum,"
"Lha, antum gak menyusul?"
"Ana masih berat syeikh, maklum anak dan istri"
"Sama saja, memang itulah perjuangannya,"
"Tapi setidaknya istri antum sudah ikhlas ya"
"Ikhlas dan didampingi air mata pastinya, anak ana juga masih bayi syeikh, ana bahkan merencanakan untuk membiarkan istri dan anak pulang ke rumah mertua. Kasihan kalau harus sendirian di rumah,"

Sampai disini aku tertegun. Ada sebuah kerelaan terbuka kecil, sangat kecil. Masih jauh lebih tak rela.

"Saya juga sebenarnya ingin sekali, siapa sih yang tak tergiur dan memiliki keinginan untuk menimba ilmu langsung dengan para syeikh besar di masjidil haram. Belum lagi diiming imingi umroh dan haji, MasyaAllah, rinduu rasanya hati syeikh. Tapi masalah pekerjaan, ana masih berat, belum sreg, belum lagi istri dan anak. Semoga... semoga di lain kesempatan ana pun bisa merasakannya"

Suami menjelaskan detil. Sekalipun jawabannya menjelaskan bahwa ia pun tak pernah memaksaku, apalagi sampai dua kali meminta. Ia tak pernah melakukannya. Sama seperti ketika dulu ia memintaku bercadar, selepas dipandang lelaki. Aku terdiam dan ia menjelaskan, bahwa permintaannya bukanlah paksaan. Seolah membiarkanku berpikir saja.

Bagian yang ini aku tersentuh. Sebab ini terkait mimpi, mimpi kami berdua. Takdir oh takdir...
Di saat teman2 puas menimba ilmu, aku terpuaskan oleh kesibukan melayani suami dan anak kami. Disaat teman2 berkeliaran di bumi Allah, aku sibuk membersihkan dapur dan rumahku. Begitu pun suami. Kami hanya bisa tergiur oleh cerita cerita kawan kami. Lalu, aku kembali bertanya, pada hati yg terdalam. Kenapa kita menikah lebih dulu,? Untuk apa? Pertanyaan itu seperti memiliki makna jawaban sendiri, labih dalam. Seperti... biarkanlah.

Sebulan


Bismillah... mewakili hati, menggores tinta.

Sebulan berlalu. Rasa sudah tersemai dengan baik. Mimpi mimpi yang dulu tertera sejak sebelum menikah terlampiaskan sudah. Belum semua, tapi hingga tahapan ini semuanya jauhhh lebih baik. Bisa merawat dengan baik buah hati bersama suami, mendengar lagi suara merdunya suami mengumandankan ayat Allah, memasakkan makanan, menyambut suami pulang kerja disertai tawa riang si kecil, di baiti jannati sederhana ini. Alhamdulillah.

Baru sebulan, atau sudah sebulan...

Selasa, November 25, 2014

C-Ray


Cerai??
Pernikahan saya bahkan belum genap 2 tahun. Dan tentu saja kata itu memiliki hawa mengerikan tersendiri bagi naluri saya.

It's oke. Ini bukan tentang saya. Tentang kisah sepasang lain yang membuat saya kaget bertubi tubi.

Tapi tentang siapapun, cerai akan menakutkan bahkan untuk yang berusia puluhan tahun kebersamaannya. Sebab artinya akan ada sebuah luka menganga yang tergores. Minimal butuh pelampiasan yang amat sadis hanya untuk mengabaikan luka itu, bukan untuk melupakannya.

Satu hal yang membuat saya terkejut adalah, fenomena bahwa: pada akhirnya yang paling sering mengumbar foto mesra lah yang berakhir paling tragis. Apakah dulu mereka merasa sehidup semati sampai lupa pada kekurangan pasangan dan pura pura terkejut saat menerimanya. Bah., ratusan hari bukan waktu yang singkat, apalagi ribuan hari dan minggu. Kenapa harus menyerah ditengah jalan. Sungguh se tak sanggup itu
Kah?
Apa ada hubungannya? Mengumbar foto mesra dengan terpisahnya dua hati itu pada akhirnya? Entahlah, silahkan jawab masing masing. Saya pun tak tahu. Hanya saja bagi penonton seperti saya tentu terasa mengganjal.

Saya memang beberapa kali mendapat teguran secara tak langsung untuk tidak memasang foto mesra berdua dengan berbagai alasan. Tapi, begitulah manusia. Seperti butuh pengakuan diri, aktualisasi diri. Harus selfie mesra dengan alasan kepuasan saja. Loh, saya tak memungkiri itu. Entah setelah diposting apa alasan paling dalam nya, riya, pamer. Ahhh.. saya juga tergiur, tapi.. oh entahlah.

Rabu, November 19, 2014

November


Oh... welcome november

Selasa, November 04, 2014

Catatan fiksi-nyata



Siang mulai beranjak sore. Hari itu lelah kami berpadu cepat. Perjalanan panas antara Balikpapan-Samarinda rasanya begitu menggairahkan untuk tidur. Kecuali abah yang sedang asyiknya menemani pak supir bercakap-cakap.
Supir : Oh.. jadi baru menikahkan anak ya pak
Abah : iya pak, anak kedua. Masih kuliah pula, semester 7
Supir : Walah pak, jadi ini udah nikahan anak yang kedua ya? Gak sayang pak sama kuliahnya anak-anak?  
Abah : Sebenarnya nanggung pak rasanya. Yang kemarin, anak pertama kan mundur lulusnya, malah belum bisa lanjut untuk jenjang selanjutnya (lirikannya ‘nyaris’ menuju saya. Jadi ya, rasanya juga ‘nyaris’ nyucuk banget dihati, huhu)
Supir : Wah sayang sekali...
Abah : Yah.. nggak juga pak. Begitulah kalau jodoh sudah datang. Anak-anak saya ini kan perempuan. Kalau ada laki-laki sholeh yang datang meminta ya mau bagaimana lagi, harus diterima, tanpa alasan apapun, apalagi kalau masalahnya belum lulus. Bisa timbul fitnah nanti pak...

Saya : Eheheh #ngalem, #Wew

8 Bulan



Kenapa kebiasaan si kecil mulai berubah lagi?

And it makes me annoyed,

Sesungguhnya.. sebenarnya... aku sudah mengantuk sejak tadi. Tapi memang beginilah siklus tidur kami para ibu. Yakni tergantung bayinya, kapanpun ia ingin bangun, bangunlah kita, kapanpun ingin tidur, tidurlah kita. Kecuali para ibu berhasil me’lobi’ si bapak untuk ikut turun tangan mengurus bayi. Jadi bahasa kejamnya, si bapak akan mengurus bayi ketika bayi bangun,dan membiarkan ibu tidur lelap tanpa gangguan. Dan ketika bayi pun tidur, si ibu juga ikut terlelap disampingnya, huawaahh kejamnya...

Bahkan ketika  jam dinding sudah berdetak sepuluh kali, ia masih merayu- rayu dengan tangisannya untuk bermain. Seolah meminta berhenti untuk dikeloni. Terpaksa dan dengan sangat terpaksa aku menghentikan belaianku, mengajaknya bangun, menyalakan kembali lampu kamar, daaaan, tersebarlah senyumnya. Cerah dan meluluhkan. Tangannya bergerak-gerak lucu menatap kipas angin. Suara khas bayinya keluar membentuk nada sambil menggenggam jari jemari kakinya. Ia menatapku berkedip-kedip dengan matanya yang bening, lalu menambahkan senyumnya yang manis dan mempesona, untuk mengajakku bermain.

8 bulan sudah...

Menatap lekat wajah lucunya membuatku haru mendadak. Pertanyaan  pertanyaan yang bertahun-tahun lalu tak kian terjawab, rupanya dijawab kini.

are you my baby?

Mengingat dulu tangan bahagia ini mengangkatnya, ia masih sangat kecil dan lemah waktu itu. Lalu ia sudah mulai bisa tertawa, menggenggam tanganku. Oh, it’s so happy.  Selang bebarapa bulan kemudian kami menunggu gerak tengkurapnya, tak juga hadir, sabar tentu saja ada, tapi proses menunggu dengan gelisah itu lebih dominan. Kamu kenapa sayang? Malas kah? Atau tak mampu? Kenapa rasanya seperti menjudge si bayi ini. Pun ketika bulan ke 7 ia belum juga menampak rasa ingin merangkak, kami masih siap menunggu. Bagaimanapun proses perkembanganmu itu membahagiakan, membuat kami menunggu-nunggu. Sabar dan gelisah sudah diluap-luapkan pada suami lewat seluler, pun disuruh sabar dan jangan gelisah. Nasihat seperti ‘semua anak punya caranya sendiri, punya masanya sendiri untuk berkembang’ , semua itu tenggelam dengan kicauan mereka tentang ‘Loh, anakku sudah mulai tengkurap usia 2 bulan, sudah mulai merangkak usia 7 bulan’. Lalu gelisah lagi... it is me, Mom.

Now, 8 bulan

Apa aku yang salah? Stimulasi yang kuberikan tidak begitu baik? Aku banyak tidak belajar? Kebanyakan teori? Lalu harus belajar dari mana? Sampai-sampai godaan untuk membelikan dan menaikkan dia di ‘baby walker’ menggiurkan dibenakku. Tapi sisi lain sehatku masih bisa bergeming dan menggumamkan, “He is still eight months...”

Baiklah, fokus balik lagi.

Sementara aku berebah, si kecil duduk di sisiku, menepuk-nepukkan tangannya (dengan khas gaya bayi tentunya) dan aku bernyanyi.

“Kamu mau main apa sayang?”
Tak ada jawaban pasti keculi suara lucu dari mulutnya.

“Oke, Ayo tepuk tangan, anak yang sholeh..”

ia menggerakkan dua tangan mungilnya untuk dipertemukan didepan dada, mengikuti arahanku, done! Aku tersenyum. Sembari bernyanyi dan mengulanginya beberapa kali lagi.

“Selanjutnya, geleng-geleng ya nak...”

Kembali ia mengikuti arahanku, menggelengkan kepalanya tanpa aturan. Tawaku pecah. Lucu.

"Teriak ! Aaaaa.." aku mencontohkan. ia pun kembali mengikuti. Mulutnya bergerak melebar dan berucap, " Aaaaa" dengan ekspresi marah dibuat- buat

Stimulasi kecil ini sering diajarkan ammah2 yang mengajaknya bermain. Tepuk tangan, geleng-geleng, memeletkan lidah, memainkan bibir, kemudian kiss bye (boleh usul yang lain, hehe).

Puas rasanya melihat ia ikut tertawa juga.

“Kalau begitu terkhir, sebelum kita bobo. Daadaa sayang..”
Ia kemudian mengikuti tanganku yang melambai-lambai. Gerakannya ke segala arah. Membuatku makin terbahak-bahak.

“DAADAAA,..” ucapnya lamat dan jelas. Tentu saja membuatku surprise. Ia bahkan sudah bisa mengkuti ucapan sederhana itu. Kalau kemarin ia juga mengikutiku bicara “Nggak” dengan keras, lalu bunyi ‘toet-toet’ juga lumayan jelas, membuatku tersihir beberapa saat. Sebelum akhirnya rasa haru itu memuncak, menghadirkan setetes air bening di ujung mata. Tak  urung aku menciuminya bertubi-tubi.

Kali ini waktunya istirahat, aku mematikan lampu, menaruhnya kembali ditempat tidurnya, kemudian kembali pada epiode ‘keloni’. Ia masih mengeluarkan suara kecil membentuk sebuah nada lewat bibirnya. Lalu mengangakat jemari kakinya dan membiarkannya menyentuh mulutnya. Iamjinasiku bermain, membayangkan seolah ia bernyanyi sambil memegang mic, yaitu kakinya sendiri. Imajinasiku tak penting. Tapi melihatnya bergerak baik dan normal itu lebih membahagiakan. Sambil membelainya , aku mengucapkan terimakasih karena sudah banyak membuatku tertawa dan bahagia hari ini.


Yes, he is still eight months old

Pesan Singkat


Saya seperti bangun dari sebuah ketidaksadaran yang amat lama ketika menemukan sebuah pesan singkat dari suami saya.
Saya menunggu kesediaan kalian, bunda dan fajri untuk mendampingi saya disini...
Pada akhirnya pesan itu keluar. Entah bagaimana mendefinisikan perasaan saya saat itu; marah, terharu, kesal,sedih, takut dan rindu. Semua terwakilkan dalam getaran tangan saya dan setetes air mata disudut mata saya.  Emosi saya teraduk kala itu.

Sebab,
Ini sudah bulan kelima, usia anak saya bahkan sudah menuju 8 bulan. Masa-masa emas dimana ia hanya menggiring senyum semua orang yang memeluknya. Lucunya mengalahkan boneka manapun yang pernah dibeli semahal apapun. Tapi bahkan haru dan bahagia itu terbagi menjadi sesak dan rindu yang menggumpal karena harus berpisah dengan belahan hati. Terakhir suami saya melihat si kecil adalah ketika ia masih 2 bulan. Ia bahkan belum mampu merespon secara sempurna terhadap apa yang suami lakukan saat itu.

Dilematis dalam arti yang sesungguhnya. Akan dibawa pergi oleh laki-laki yang dirindui adalah angan terkeras saat ini, namun tak bisa juga dipungkiri, bahwa saya bahkan merasa takut. Takut pada dunia nyata, bahwa ini waktunya berjuang untuk sebuah realitas hidup yang sesungguhnya. Membayangkan bertahun-tahun kemudian seperti apa kiranya keluarga saya, membuat saya tak henti-hentinya merapal do’a. Harus memulai adaptasi dari nol, di sebuah tempat yang sungguh asing, bahkan mungkin karena lamanya tak bertemu, bisa jadi suami adalah salah satu dari sosok asing itu, adaptsi yang berat kiranya. Tapi menyesuaikan mimpi untuk bisa sukses, adrenalin saya juga seperti terpacu, semangat juga membara, merasa tantangan segar membias, jalan baru untuk lebih baik. Mana yang terjadi, entahlah...



Kamis, September 18, 2014

Dirty.. ugh!


Jangan mikir-mikir yang aneh-aneh dulu ya pas liat judulnya. Saya cuma mau sapu-sapu blog ini. Lama gak terjamah..(.hiks,hiks), tahun lalu terakhir main kesini.
Tenang teman-teman, saya gak pindahan kok, masih disini. Cuma terjebak aja sama situasi. M A L A S

Sebelumnya banyak yang pengen saya tulis, tapi tetap aja mogok. Mood-nya udah kayak berkarat. Nulis segini pendek-nya, segini-gak-jelas-nya aja, udah dipanggil-panggil sama tangisan bayi yang minta dikeloni. Jadi tahu aja kan ya gimana gak puasnya nulis dipotong-potong gitu. belok-belok, kemana-mana, gak jelas arahnya, hehe...

Salam sapa aja dulu kalo gitu ya, saya mau beres-beresin ide plus imajinasi saya dulu.

Senin, Desember 09, 2013

Story of My Life : Love Story Part One




Maybe you've had your heart broken one too many times, and you think it's easier to be a cynic. And every time you watch a fairytale moment in a movie, all you want to do is gag.

Tahu ini akan sesulit ini?

Ya…tahu dan paham dan pasti sudah memprediksi. 

Saya juga katakan itu pada suami saya, ketika ia bertanya.

Akhirnya pecah juga pertengkaran kami sebelum merayakan first anniversary kami. Buntut-buntutnya jadi begitu panjang. Kegoisan, labil dan keras kepala membuat kami masing masing terlempar pada satu titik terpedih dalam hidup kami, dan semoga tak ada yang kedua kalinya ( amiin, bukankah kami belajar)

Pernikahan kami, dilandasi dengan kesucian yang amat terjaga. Ta’aruf yang terjaga dan tanpa waktu lama. Apa ini keputusan yang terburu-buru. Kami sama-sama belum memiliki izin KUA untuk menikah (seharusnya). Tapi karena kami menikah bukan karena kecelakaan, baik-baik dan dianggap mampu, maka izin pun keluar. Suami saya begitu gantle, meminta diri saya langsung pada orang tua saya. Diterima atau tidak (oleh saya) dia sepenuhnya menyiapkan diri. Tapi tentu saja, tak ada alasan saya untuk menolak. Sungguh, apalagi orang tua saya mendukung penuh, seperti kata mereka, ‘menantu idaman didepan mata’.

Menantu idaman, karena ia bicara apa adanya ketika memperkenalkan diri. Ia menjunjung tinggi apa yang disebut kejujuran ( dan sekarang saya yang merasakannya), ia mapan dan tahu dapat diandalkan menjadi imam. seorang ustadz muda dengan suara yang merdu, gemar menghafal al-qur’an, ketekunan dalam bekerja, dan lain-lain yang membuat saya jatuh cinta. Tapi tetap, jatuh cinta pertama saya hadir dimalam pertama. Dimana ia membuat saya bergadang dengan lelucon-leluconnya. Manis, ceria, saya menyadari betapa ia masih sangat muda, tetap tidak kaku. Ah. Tapi sifat inilah yang memulai segalanya.

Saya ingat, seorang sahabat saya ketika diberi kabar bahwa saya dikhitbah, celetuknya justru

“Ah… gak mungkin… gak mungkin” hehe, ia tertawa dari bahasa bibirnya. Tahu bagaimana saya (yang mungkin) belum begitu pantas masuk ke jenjang pernikahan itu. Tapi itulah faktanya. Saya memilih menikah muda, dengan orang yang masih muda pula, dan jadilah kami sepasang jiwa kekanak-kanakan menyatu.

Hanya saja…

Saya tak sedang membela diri, tapi saya benar-benar berusaha semaksimalnya menjadi pribadi yang dewasa. Sekuat tenaga menjadi istri yang baik dan sejajar dengannya. Semuanya, saya lakukan dengan sungguh-sungguh. 

Masa-masa jatuh cinta kami jelas tak bisa pupus dihati saya. Kalau saya memungkiri anugrah Allah ini, maka betapa celakanya saya. Betapa ruginya saya. Nyaris dua bulan pernikahan kami, saya bisa memberinya kabar, bahwa buah cinta kami telah tumbuh. Saya hanya senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana ia bereaksi. Itu kenangan manis. Sekali lagi, kenangan manis. Dan setelah amanah dalam pekerjaannya bertambah, kami dihadiahkan rumah sederhana untuk berdua. Sederhana memang, tapi itulah rumah cinta. Apalagi dengan lingkungan yang begitu maksimalnya mendekatkan diri pada Allah. Cinta kami subur, tumbuh, saling membahagiakan dengan kemampuan kami. Tapi satu hal, kami masih kekanak-kanakan. Kami tetap tumbuh dengan jiwa yang ada diusia kami. Tak lantas dewasa dengan perkara ijab kabul itu…

To be continue...







Sabtu, Oktober 26, 2013

Damai




 Tiba-tiba menemukan senandung new seo heart - damai.

Mengerti atau tidak saya sedang perih, perih ini seperti pegulangan, hanya saja lupa bagaimana mengamati setiap episode kehidupan –yang- dimana mendadak berubah. Sekejap.

Berapa kali sudah saya katakan, banyak yang berubah dalam sekejap.

Menjadi putri, menjadi istri lalu kemudian menjadi seorang bunda. Tapi saya tetap wanita. Wanita dengan perasaan yang peka. Saya kadang menyebutnya ‘lebay’, sebab kepekaan itu seolah-olah hanya milik saya. Namun perlahan, saya menyadari, itu milik semua wanita. Hanya, saya yang terlalu kerdil.

Kalau begitu saya mintaa maaf,

Pada siapa?

Pada perasaan ini. Perasaan yang sakit karena egoisme seorang diri.

Namun, petualangan lah yang membantu saya, beserta ilmuNya.

Senin, September 23, 2013

Quotes of the days


Akhirnya aku menemukanmu lagi bersama tinta yang bening di lautan hikmah, berbaris kata-kata terukir basmalah, hamdalah dan tasbih atas setiamu mengiringiku. Aku yang lelah, memintamu duduk, menatapku dan mendengarkanku. Engkau yang indah, yang berdada lapang dan berlembar-lembar wajah berwarnamu yang memancing rinduku. Setelah padaNya, aku berlari padamu. Atau sembari berkeluh padamu, aku sedang bicara padaNya. Kau akan menjadi sahabatku.. meski dipagi yang gigil, siang yang terik, senja temaram, ataupun di malam suram. Kau akan menjadi sahabatku..menjelajah hari-hariku, mendengarkan cerita2 ku.. dalam balutan tawa, canda, ataupun duka hatiku..
 
BLC

Selasa, Juli 16, 2013

Amateur Writing Stories part 1


Jadi  penulis cerita itu punya banyak pengaruh gak sih? Seberapa besar? Besar gak kontribusinya untuk urusan dakwah? Kalau jadi da’I jelas ada. farmasis, dokter, guru, kontribusinya juga besar.

Oh lala….
Gak pernah ada yang ngelarang  saya jadi penulis, tentu saja gak pernah. Tapi nyentil-nyentil dikit, seriiinnng banget. #hemz

“ Zi… bantuin mba dagang dong. Lumayan, buat kamu belajar bisnis. Kan udah nikah…”
“Emm…,” entah kenapa aku cuma bisa bilang gitu lama banget.
“ Kenapa?”
“Nggak tau mba, perasaan saya ini gak pinter jualan, hehe…” Tahu kan! Pake ketawa hehe itu supaya mbanya ngerti kalau saya bercanda.
“Jadi apa dong pinternya? Berimajinasi yaaa?”

Wew… pilihan kalimatnya nyentil kan? Imajinasi… seolah-olah apa yang kamu tulis itu gak pernah nyata. Itu boongan semua…

Satu lagi kisah disentil masalah begini…
Waktu itu masih SMA…,
Massih di asrama. Asrama saya lumayan padat penduduknya. Segalanya gak bisa dilakukan secara diam-diam secara sempurna. Termasuk ketika saya mencari ide. Saya suka sekali mencari ide ketika sedang tidak fokus sama sekali di kelas, atau justru saat sangat focus menjelang tidur.

“Dek Fafa…,” panggil kakak kelas saya waktu itu.
“Ya mba…,”
“Saya takut kalau liat dek fafa mau tidur,”
“Lho kenapa?” tanya saya heran. Penasaran serta ikut ketakutan (takut sama jawabannya, ‘jangan-jangan saya kayak hantu kalau mau tidur)
“Dek fafa pasti melamun, gerakin tangan ke atas, ke bawah, ke samping, mulutnya komat-kamit…”

Haaaa??? Weleh-weleh… polos sekali mbak ku satu ini. Padahal aku sedang mencari sentuhan ide untuk cerita-ceritaku. Atau itu memang artinya saya melamun #hiks_parah_dong_kebiasaanku.

Satu lagi deh cerita… (satu-satu melulu nihhh)

Waktu itu saya lagi suntuk banget nih…suami baru saya ( Ciee ) lagi telponan sama sanak saudaranya yang lagi nan jauh di Lampung…
…ditengah perbincangan mereka saya tersentil.

“ istri kamu kerja nduk?”
“Nggak mba, masih kuliah. Kuliah nya gak rampung-rampung. Padahal udah mahasiswa semester atas…,” sindir suami saya , sambil ngelirik-ngelirik ke saya yang tampang pasang cuek alias ‘awas kamu nanti’
“Ooohh.. ya gak papa. Rencananya nanti mau kerja apa?”
“Harusnya siiihhh… ya jadi apoteker. Tapi bocahnya bilang mau jadi penulis aja mba, gak mau sibuk,” kali ini suami saya ngelirik sambil cengengesan. “Ceritanya mba, dia pernah jadi penulis waktu kecil. Menang lomba, bukunya diterbitkan, trus ngerasa banyak fansnya deh… habis itu sekali nerbitkan buku, berhenti deh. Lha yang ditulis cerita-cerita khayalan. Dongeng-dongen gitu mba…,”

Preettt… tak ayal cubitan melayang untuknya.

Itu sentilan-sentilan kecil. Belum lagi orang tua, haduh-haduh… geleng-geleng kepala aja saya.

“cita-cita kamu jadi apa?”
“jadi penulis...,”
“kalau gitu ngapain kuliah di farmasi?”

Euhhhh… mau tahu aja! Gondok yee

Itulah kenapa pertanyaan diatas saya utarakan, curhatan selanjutnya baru saya kasih tahu kenapa saya galau gini…

Jadi  penulis cerita itu punya banyak pengaruh gak sih? Seberapa besar? Besar gak kontribusinya untuk urusan dakwah? Kalau jadi da’I jelas ada. farmasis, dokter, guru, kontribusinya juga besar.
Jawabannya paling gak pasnya adalah
Jadi penulis itu melegakan, plong!
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men