Selasa, Agustus 11, 2015

Isi kepala


Urusan sosial media itu memang gak bisa terlepas dari urusan pamer dan dan main tunjukan. Bahkan ada yang buka sosmed nya cuma kalau lagi pengen pamer. Selebihnya, ia biarkan berdebu.

Nah, orang tidak mungkin pamer kalau niatnya bukan supaya orang lain iri. Wah... kejam nih, hihihi. Gak sih! Simple aja. Maksud saya itu... nanti saya jelas in maksud hati saya ya. Memang paling afdhol tenan itu ya mbah mbah kita zaman dulu atau orang kampungan yang gak punya sosmed. Gak kena firasat buruk orang orang bahwa ia suka pamer.

Orang yang kaya pamer uangnya (Gak mungkin dia pamer utangnya), orang yang single cantik/ganteng pamer selfie nya pake gaya yang uwow. Yang baru nikah pamer foto nikahnya, yang baru punya anak pamer foto anaknya, yang punya cucu. Yang suka musik ini pamer apa yang didengar, yang lagi bisnis juga pamer bisnisnya. Terus yang baru ke masjid pamer foto masjid nya, yang baru infaq pamer kotak amalnya (yeks..). Jiakaka... apa yang ada dibenak kalian? Segitu bahagianya hidup kalian bro? Atau segitu sedihnya hidup kamu sis? Dua pertanyaan itu pasti pernah terlintas di masing masing kepala. Sekarang masalahnya siapa yang punya kepala itu.

Nah, jadi itu maksud saya!

Tau?

Saya posting gini juga ada yang menggumam "pamer nih yeeee", "mentang-mentang..." duilee. Jangankan status saya yang abal- abal gini. Status ustadz, ilmuwan, yang nyata nyata pake ilmu dan hadist-hadist shohih aja banyak yang bilang pamer. Ada gitu?

Ada! Tergantung kepala. (Pikir sendiri yak kenapa ada yang bisa iri sama orang yang suka sharing agama atau kebaikan). Tapi disisi lain, status kebaikan itu punya nilai kebahagiaan dan manfaat buat orang lain. Sekali lagi, tergantung kepala.

Yah, ini mah ribet buat yang masih gak terima. Setiap orang masing masing punya pendapat dengan sisi sisi yang gak disukai orang lain, tapi ada sisi-siai lain yang bisa diterima orang lain. Terimalah!

Kalau gak bisa, diamlah. Tidur! Hehehe.

Orang posting foto pake cadar, ada yang komentar (atau ya cuma menggumam)
"Deuu, Astagfirullah... pamer, yang baru tobat. Baru dapat hidayah"

Tapi disisi lain ada yang komentar

"Subhanallah.. ukhti fulanah baru dapat hidayah. Wah, ana terinspirasi, hiks"

Nah, terlihat lah isi kepalanya. Padahal itu urusan hidayah. Begitu juga ketika ada yang posting tentang wedding misalnya.

"Huu... innalillahi nih si mbak, buka aurat wajah lagi cantik cantik (red: menor menor) gitu dipasang.

Disisi lain ada yang komentar
"Barakallahhu lakuma wa barokah alaik"

Heish... kelihatan kan isi kepalanya.

Gak papa, gak selalu salah. Kelihatan juga kan isi kepala saya mengjudge siapa. Saya gak bilang apa yang dikepala saya ini pasti benar. Bisa jadi ini proses pembenaran yang sebenarnya salah.

Bisa jadi selama ini saya suka ngomel ngomel sama yang suka pasang foto selfie cantik gara gara saya iri sama kecantikan mereka. Hahaha. Preet!

Walah... walah... bagi saya itu gak masalah. Karena sebenarnya apapun yang kamu tulis, kamu sharing, kamu upload, menunjukkan kamu sedang pamer isi kepala kamu.

Tapi yang paling penting. Saya masih mendukung kalau ada yang mau mengingatkan, menegur, apa apa yang melenceng. Ya udah tegur aja, " ukhti... menor banget, jangan dipasang fotonya. Ukhti, jangan dipasang itu gak pantas"

Betewe, betedong.. apa yang ada di kepala saya ini terinspirasi dari sebuah artikel yang barusan dishare teman saya. Intinya " saya memberikan asi ekslusif, tapi saya tidak merayakan pekan asi". Isi tulisan ini dibuat demi melindungi perasaan ibu ibu yang gak berhasil melaksanakan Asi ekslusif.

Lalu, diberanda hari ini pun, saya menemukan artikel yang bertolak belakang, intinya " saya tidak berhasil melaksanakan Asi ekslusif, tapi saya merayakan pekan asi"

Lho, jadi saya sebagai ibu yang sedang menyusui mendukung yang mana? Hehehe... Wah nanti ketahuan dong isi kepala saya, wkwkwk, Prett!

Saya pilih yang netral. Karena saya sendiri sedang dalam masa kritis menyusui di usia bayi 18 bulan. Saya akui perjuangannya ga main main. Lahir batin deh (untuk kondisi saya ya) Dan tiap hari pengen minta berhenti. Ibaratnya, kita lagi rewel.

Tapi masa kritis ini sudah berjalan 6 bulan, dan sampai sekarang bisa dilewati. Tersisa 6 bulan lagi. Beban terberat sih mental, fisik mungkin cuma 40% aja. Huhuhu (sedot ingus)

Menyerah sih ingin. Toh, ada banyak pembenaran di kepala saya. Banyak!!! Tapi saya pernah dapat nasihat dari tenaga medis yang pro ASI, "Di Alquran saja, sebuah nasihat dari awal zaman hingga akhir zaman,  Asi disebutkan 2 tahun, bukan kewajiban memang nilai 2 tahun itu. Tapi ilmu dalam alquran itu, penuh keajaiban yang kadang akal dan ilmu manusia belum sampai"

Ingat nasihat ini aja bisa sampai netes air mata.

Selasa, Agustus 04, 2015

Malam resah


Ada satu malam, dimana air mata saya menetes. Mengunjungi Sang pencipta sambil membayangkan wajah wajah orang yang dicintai. Menguatkan hati untuk setiap cerita cerita hidup baru yang silih berganti hadir. Bahagia dan sedih adalah satu paket yang diberi.

Lalu memandang dua wajah yang sedang terlelap, satu wajah kelelahan dan satu wajah polos tak terkira. Mencintai mereka begitu dalam tak terbayangkan dalam hidup, tapi juga menjadi alur yang sangat menakutkan. Bagaimana bagaimana, menjadi pertanyaan yang membingungkan dan tak ingin terjawab.

Mereka begitu sekejap hadir " begitu suara batin menggema". Baruu saja, tapi mengapa rasa melekat begitu kentara. Sebuah ikatan yang entah darimana membelenggu sehingga tak sanggup bila berjauhan. Padahal banyak pilihan hidup untuk lebih baik, ah tidak, setidaknya itu hanya dibenakku.

Maka, malam itu air mata ketulusan tumpah, memohon kemantapan hati atas setiap amanah barunya. Bahwa apa yang menjadi pilihan adalah nilai terbaik di sisiNya.

Semoga yang ada disekitar pun meyakini, mengikhlaskan, serta mau bahu membahu membangun sebuah istana di syurga. Meski di dunia kita akan bersusah payah lahir dan batin. Ah, susah payah itu hanya rasa bagi yang kurang bersyukur. Itu saja.

M-3,

Duhai, Allah... ketika detak jantungnya kurasa, tendangan halusnya menyapa, ada rasa rindu pun takut. Sebab ini rindu yang juga pernah kurasa, ini rasa takut dan khawatir yang pernah kumiliki jua. Masih terbayang bagaimana sakitnya, apakah semua akan jauh lebih mudah. Bagaimana bila, ah...

Minggu, Juli 26, 2015

Proses


Kapan pertama kali ketemu suami?

Hmm...

Kapan pastinya sebelum nikah saya lupa.

Mungkin sering ketemu tapi saya gak pernah sadar

Yang pasti, pertama kali ketemu, yang saya ingat, waktu ijab qobul, oh bukan, waktu foto untuk proses KUA. Masih ingeet, inget banget sama keringat dingin yang meluncur mulus di dahi...wkwkwk

Waiitt??? Seriuuus???

Huum...

Dan percaya deh, cinta kami datangnya setelah menikah, after married. Karena prosesnya yang amat singkat, padat, cepat dan ketat.

Tapi justru Allah gak main main sama urusan jodoh yang ikut aturannya.

2013

Februari awal : pertama kali saya di tawari menikah. Ditanya, sudah siap apa belum. Saya jawab, siap siap entahlaaaah.... tergantung calonnya. Hihihi

Februari akhir: saya di ajukan calonnya. Berpikir, beberapa waktu, sampai akhirnya meng iya kan

Maret pertengahan: Taaruf, sayangnya ada adegan tak diduga. Saya sakit perut mendadak. Daaann... yang ta'aruf beralih kepada orang tua. Saya masih ngira ini bercanda, sangking malunya.

April pertengahan : saya sudah di lamar, uwo...uwo...

Mei, tanggal 11 : we get married

Juni akhir: saya positif hamil, hitungan minggu.

2014

Februari (lagi) awal : buah cinta pertama lahir

2015

Februari (lagi) : saya positif hamil anak kedua

November mendatang : HPL

2 tahun, and its amazing....

Kadang kadang saya masih kaget. Masih  berasa mahasiswa. Atau bahkan, merasa baru lulus SMA. Padahal ( iya sih) udah tua, emak emak emak

Rabu, Juli 01, 2015

Love him


Andaikan saja, - dalam hal ini saya baru membayangkan saja -, saya mencoba marah dan tak berusaha menahan setiap uneg uneg untuk melampiaskan rasa kesal yang melanda,  apakah semua masalah akan selesai?

Pun kami, layaknya pasangan lain yang sudah tinggal satu atap, berdua membangun sebuah "rumah" sekaligus "tangganya", dan tentu nyaris mengenal sudah luar-dalam-samping kanan-kiri-atas-bawah, pernah -tentu saja- terbesit kesal untuk hal hal sepele. Huft... lalu, pertanyaan semacam itu - kalimat pertama tadi- keluar, bagaimana ya? Bagaimana?

Sudah berapa lama atap ini terbangun? Pondasi rumah kami? Baru saja? (Kami terhitung lama di LDR), atau sudah cukup beradaptasi untuk setiap masalah masalah baru yang hadir? Huft...

Kadang ketika merasa marah, saya tak pernah benar benar marah padanya, hanya terbesit lalu terbuang. Bukankah itu buruk? Saya cukup mengungkapkan rasa kecewa dengan cemberut. Lalu ketika ia sadar, ia akan melakukan sesuatu. Kejutan. Atau apapun yang memperbaiki mood istri nya. Hanya saja - sayangnya- tak ada juga ungkapan minta maaf. Puuunn... sebaliknya, itu juga yang saya lakukan ketika ia marah. Ia juga tak pernah benar benar marah. Tuk! Bagaimana bisa sih, kami benar benar bertemu sebagai jodoh dengan sifat yang amat sama seperti ini?

Tapi disisi lain, saya merasa kok,  Mmm... something wrong. Gak seharusnya seperti ini kan? Harusnya saya marah ya marah, sehingga dia minta maaf ya minta maaf, semua diungkapkan. Rasanya aneh, membiarkan sesuatu yang salah berjalan terus? Tunggu dulu, apa ini benar benar salah? Sampai saat ini, kami baik baik saja. Kadang ketika sudah merasa dimanja, saya ingin mengunggakapkan betapa saya sedang kesal padanya sebelum ini. Tapi sekali lagi, saya takut merusak suasana yang sedang manis.

Jadi, apa kami salah?

Misalkan,

Kadang kala, ketika saya sedang lelah, istirahat. Sementara sekecil yang sedang bermain dengan ayahnya. Lalu, ada kejadian tak menyenangkan, ia buang air besar tiba tiba ( training toilet yang belum sukses, sementara pampers sudah dilepas) terbayang betapa kotornya itu kan? Suami saya justru memilih membangunkan saya dibandingkan langsung membersihkannya. Meskipun saya dongkol sedongkol nya, saya tetap bangun, tetap membersihkannya ke wc dan mengepel rumah. Membiarkannya bermain kembali tanpa kata, dan cemberut.... lalu sore harinya, sebagai permintaan  maaf ada saja kejutan, jalan-jalan misalnya, Huft... dan saya memaafkan.

Atau

Saya sudah memasakkan makanan yang ia suka dengan -agak- susah payah misalkan. Tapi menemukan kenyataan, bahwa ternyata ia harus pulang larut malam. Saya bisa membayangkan ia makan diluar. Tak ada ungkapan marah atau apapun  Hanya saja mood saya hancur, ikut ikutan tak selera makan dan tidur tanpa menunggunya pulang. Ketika tengah malam, atau bahkan dini hari saya terbangun, saya menemukan rumah berantakan. Oh... Tapi tidak, itu membuat saya senang, saya menemukan meja makan kosong melompong, porsi sekian orang ia makan dalam sekali ( atau entahlah bagiamana), dan akhirnya - sekali lagi- saya memaafkan tanpa kata. Rasa itu, antara bahagia dan kelaparan, hagh..hagh...

Nah, begitulah...
Jika memang andaikata, saya mengungkapkan setiap kekesalan saya, mencoba menjelaskan betapa lelah dan kesalnya saya menjadi istrinya, menjadi ibu rumah tangga yang full-time-mother. Lalu, ia bertanya balik pada diri saya

"Lalu, apa yang kamu inginkan?"

Saya mungkin menjawab

"Ingin tetap seperti ini"

Benarkan? Layaknya tulisan ini. Hanya sebuah gerutuan tanpa arti :D

Love him

Ibu rumah tangga
Sidomulyo, Lampung Selatan

Love him


Andaikan saja, - dalam hal ini saya baru membayangkan saja -, saya mencoba marah dan tak berusaha menahan setiap uneg uneg untuk melampiaskan rasa kesal yang melanda,  apakah semua masalah akan selesai?

Pun kami, layaknya pasangan lain yang sudah tinggal satu atap, berdua membangun sebuah "rumah" sekaligus "tangganya", dan tentu nyaris mengenal sudah luar-dalam-samping kanan-kiri-atas-bawah, pernah -tentu saja- terbesit kesal untuk hal hal sepele. Huft... lalu, pertanyaan semacam itu - kalimat pertama tadi- keluar, bagaimana ya? Bagaimana?

Sudah berapa lama atap ini terbangun? Pondasi rumah kami? Baru saja? (Kami terhitung lama di LDR), atau sudah cukup beradaptasi untuk setiap masalah masalah baru yang hadir? Huft...

Kadang ketika merasa marah, saya tak pernah benar benar marah padanya, hanya terbesit lalu terbuang. Bukankah itu buruk? Saya cukup mengungkapkan rasa kecewa dengan cemberut. Lalu ketika ia sadar, ia akan melakukan sesuatu. Kejutan. Atau apapun yang memperbaiki mood istri nya. Hanya saja - sayangnya- tak ada juga ungkapan minta maaf. Puuunn... sebaliknya, itu juga yang saya lakukan ketika ia marah. Ia juga tak pernah benar benar marah. Tuk! Bagaimana bisa sih, kami benar benar bertemu sebagai jodoh dengan sifat yang amat sama seperti ini?

Tapi disisi lain, saya merasa kok,  Mmm... something wrong. Gak seharusnya seperti ini kan? Harusnya saya marah ya marah, sehingga dia minta maaf ya minta maaf, semua diungkapkan. Rasanya aneh, membiarkan sesuatu yang salah berjalan terus? Tunggu dulu, apa ini benar benar salah? Sampai saat ini, kami baik baik saja. Kadang ketika sudah merasa dimanja, saya ingin mengunggakapkan betapa saya sedang kesal padanya sebelum ini. Tapi sekali lagi, saya takut merusak suasana yang sedang manis.

Jadi, apa kami salah?

Misalkan,

Kadang kala, ketika saya sedang lelah, istirahat. Sementara sekecil yang sedang bermain dengan ayahnya. Lalu, ada kejadian tak menyenangkan, ia buang air besar tiba tiba ( training toilet yang belum sukses, sementara pampers sudah dilepas) terbayang betapa kotornya itu kan? Suami saya justru memilih membangunkan saya dibandingkan langsung membersihkannya. Meskipun saya dongkol sedongkol nya, saya tetap bangun, tetap membersihkannya ke wc dan mengepel rumah. Membiarkannya bermain kembali tanpa kata, dan cemberut.... lalu sore harinya, sebagai permintaan  maaf ada saja kejutan, jalan-jalan misalnya, Huft... dan saya memaafkan.

Atau

Saya sudah memasakkan makanan yang ia suka dengan -agak- susah payah misalkan. Tapi menemukan kenyataan, bahwa ternyata ia harus pulang larut malam. Saya bisa membayangkan ia makan diluar. Tak ada ungkapan marah atau apapun  Hanya saja mood saya hancur, ikut ikutan tak selera makan dan tidur tanpa menunggunya pulang. Ketika tengah malam, atau bahkan dini hari saya terbangun, saya menemukan rumah berantakan. Oh... Tapi tidak, itu membuat saya senang, saya menemukan meja makan kosong melompong, porsi sekian orang ia makan dalam sekali ( atau entahlah bagiamana), dan akhirnya - sekali lagi- saya memaafkan tanpa kata. Rasa itu, antara bahagia dan kelaparan, hagh..hagh...

Nah, begitulah...
Jika memang andaikata, saya mengungkapkan setiap kekesalan saya, mencoba menjelaskan betapa lelah dan kesalnya saya menjadi istrinya, menjadi ibu rumah tangga yang full-time-mother. Lalu, ia bertanya balik pada diri saya

"Lalu, apa yang kamu inginkan?"

Saya mungkin menjawab

"Ingin tetap seperti ini"

Benarkan? Layaknya tulisan ini. Hanya sebuah gerutuan tanpa arti :D

Love him

Ibu rumah tangga
Sidomulyo, Lampung Selatan

Senin, Juni 22, 2015

Second pregnancy


Lama sih sebenarnya pengen share tentang proses kehamilan itu. Dari kehamilan pertama mungkin, tapi ada saja alasan untuk mengulur, huhu. Ngefek atau gak ke orang lain saya gak tau, tapi rasanya pengen banget punya kenangan berupa catatan tentang dunia 9 bulan itu.

Pengennya memang tiap tahap, tapi MasyaAllah... ini udah udah kehamilan kedua, bahkan udah jalan 5 bulan. Telat bingit.. hihihi.

Tapi sudah lah, malam ini saya lagi pengen ngisi blog. Pas lagi tepar banget. Tapi teteup aja gak bisa tidur, padahal udah rebahan dari tadi.

Oke, my second pregnancy. Doakan ya, insyaallah november lahiran. Jeda sama si kakak farhan insyaallah 21 bulan. Ah.. apalah... apalah.

Sensasinya? Uwoow... kaget, senang plus panik. Gimana ya  si kakak masih kecil banget, masih lucu banget. Masih sangat butuh perhatian sekali.

Dan orang yang paling shock adalah: treng... treng... yap, jauzy. Nyebelin ya, Haha. Padahal udah direncanakan lama, begitu tau malah kaget. Harusnya kan baby blues nya ke saya. Wkwkwk.

Alhamdulillah, kalau yang lain mendukung aja. Ada sih, satu dua yang ikut ikutan shock dan kasihan. Tapi senangnya, banyak yang mendukung
"Alhamdulillah... Gak papa mbak, kan masih muda."

Wew... masih muda apanya coba #tepokjidat.

Nah, perbedaannya ada gak?
Adaaa... Tapi gak seberapa. Memang ya, anak pertama (apalagi cucu pertama) ternyata menjadi yang amat ditunggu, bahkan secara berlebihan, hihihi. Bisa bikin geleng geleng yang udah punya selusin, haha. Kalau yang kedua ini, gak terasa aja. Gak kalap juga. Udah 2 bulan baru mampir ke bidan  itu pun serius cuma mampir. Tau nya? Bahkan sebelum sebulan usia kandungan, ya maklum, masih keinget, kebayang , terasa sama yang hamil yang pertama. Tanda tandanya kan rata-rata sama. Tapi rasanya? Beda sikit lah, Mmm... hamil kedua lebih gak terasa dag dig dugnya. Meski rasanya, MasyaAllah, lebih capek ding. Saya baru tau rasanya derita ibu hamil ya pas yang kedua. Yang katanya pinggang kerasa mau patah, tulang sakit banget, parah sampai ada yang gak bisa bangun. Saya ngerasain semuanya, haaa 60 % lah.. Gak parah banget, tapi jauh lebih berat dari hamil pertama. Itu belum kalau ada adegan si kakak yang udah nyaris 10 kg, rewel buanget, minta gendong, rasanya? Uwoh... uwoh. Dan sebagai tambahan dramatisnya, hihihi. Hamil kedua ini ( Alhamdulillah) udah bertiga aja sama suami, tanpa lagi ada embel embel orang tua, saudara, mertua apalagi ART yang bantu. Dan karena saya lagi diajak mandiri, tinggal di pelosok kampung ( bukan di desa ya), rumah mewah pun masih nyumur, jadi tentu aja, ada agenda nimba sumur, yang dalamnya kurang lebih 20 meter, josh!
Tapi alhamdulillah, adegan ini juga udah mulai berkurang semenjak hamil, banyak an di handle sama suami. Kecuali dengan sangat sangat kepepet, pas suami kerja dan air stok habis banget, padahal perlu banget. Cuma sekali dua kali nimba, habis itu,.... tepar! itu belum Nyuci, masak, bersih rumah, ada halaman depan, samping, belakang, yang kalau pagi pagi nyapu dan beres, dari habis subuh sampai bisa jam 9. Uyuuuh (ini Gak ngeluh kok, cuma perasaan aja, wkwkwk)

Nah, bedanya sama hamil pertama? Yah, bisa dibayangkan sendiri lah, banyak yang manjain, hiks.. hiks. Tinggal tempat orang tua, dengan segala fasilitasnya. Saudara, teman, buanyaak.Kalau mau Nyuci tinggal muter mesin, kalau mau makan tinggal bilang, dsb. Makannya kebayang kan, kita bisa nyambi penelitian, plus skripsi. Bisa selesai ngebut, seminggu sebelum melahirkan, bisa sarjana. Yeee!

Dan Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih belum menyapih si kakak. Masih di perjuangkan buat nursing while pregnant nya, bahkan pingin bingit sampai tandem nursing. Bisa puasa ramadhan juga dengan 3 tanggungan. Tapi untuk yang ini, lain kali aja saya cerita.

Meski penutupannya agak rancu, saya mau jujur aja, nulis segini saya lelah banget. Apalagi disambi menikmati pinggang dan kaki yang rewel ini. Plus si kakak yang emang lagi batpil dikit. Waah... saya gak kuat buat melanjutkan, Zzzzzz

Kamis, Juni 18, 2015

Wakakaka


Rencana :
Ba'da sholat tarawih pokoknya langsung beresin rumah, plus dapur, plus lagi, siap siapin buat sahur besok.
Waktu tidur, jam 10 malam, gak ada lagi acara buru buru sahur kayak semalam.
Nahh... jeda waktu sisa habis bersih bersih - waktu mau tidur, (dibayangan sejam an lah) dipake tilawah. Buka hp cuma 2-5 menit sebelum tidur.

Kenyataan : jam 11 malam baru selesai urusan dapur, hahaha...

Selasa, Juni 16, 2015

00.00


Malam sudah tampak larut. Pukul 23.36. Aku terbangun sejak 2 jam lalu. Setelah sholat isya aku ketiduran, mengikuti jejak si kecil yang sudah lelap sebelum adzan isya. Lalu mendapati ruang tengah berantakan, hasil karya jauzy. Cemilan, nasi, buah semuanya baru setengah makan dan ditinggal begitu saja. Sepulang isya, samar ketika masih mengantuk, aku mendengar ia dihubungi teman sejawat. Pengajian setelah itu ngobrol.

Akhirnya aku terbangun karna lapar mendera. Setelah makan (menyisakan untuk jauzy yang punya kebiasaan makan setelah urusan luar selesai, sekalipun itu tengah malam). Lalu bersih bersih rumah, berwudhu dan mengaji.

Aduh, menyenandungkan ayat alquran di tengah keheningan begini benar benar menyentuh. Tiba-tiba merasa ingin menangis dan ada debar berbeda meluap di hati. Ada sebuah kerinduan yang amat dalam untuk sebuah episode ramadhan. H-1.

Ini bukan ramadhan pertama berada di perantauan. Tapi ini akan jadi ramadhan pertama tanpa mudik. Hiks...

Duh, Bismillahirrohmanirrohim... kemarin kan udah dikuatkan sama jauzy. Tapi teteup aja sesak begitu mendekati sensasi ramadhan ini. Semoga dikuatkan, berkahNya juga tetep diraih.

Ini juga ramadhan pertama kita bakalan makan sahur plus buka puasa bertiga aja. Dulu dulu kalau merantau, ya selalu dalam keadaan rame. Yah, proses lah... proses. Ini kan hikmah dari sudah berkeluarga.

Tapi dari semua itu, semoga bisa full melaksanakan ramadhan. Memang ada kemudahan untuk para ibu menyusui dan hamil. Ahh... kita bagi tiga nutrisinya ya sayang. InsyaAllah pahalanya juga *elus elus si kakak yang masih Asi dan si Adek yang masih di perut.

Nah, sudah larut banget ini. Ngantuk belum juga hadir, tapi dari kejauhan udah dengar suara motor jauzy. Edisi curhatnya harus ditunda lain waktu.

Alhamdulillah

Ibu rumah tangga
Lampung selatan, sidomulyo

Minggu, Mei 31, 2015

24


Nah... di fase baru ini saya mau bilang, Alhamdulillah. Banyak-banyak syukur tak terkira. Pada Allah tempat memintaku, pada Rasul dan sahabat sebagai teladanku. Pada sosok sosok yang silih berganti hadir dalam hidupku, memberikan senyum, tangis, tawa dan lelah. Sosok sosok itu selalu berubah dari proses ke proses, dari episode satu ke episode lain.

Saya suka tutup muka merasa malu, mengingat ingat masa SMP yang masih lugu lugunya. Bahagia, menyenangkan, mengenangkan, tapi masih lugunya. Masih menyisakan kemanjaan ala anak anak yang butuh perhatian. Lalu SMA saya sudah mulai berproses, menyadari bahwa kemandirian itu penting, berusaha sekuat tenaga meninggalkan rasa manja yang menjadi bagian dari kebiasaan hidup. Beraat... saya ingat itu. Tapi jauh lebih berat proses pendewasaan di bangku kuliah. Prosesnya memakan banyak korban perasaan. Ada saja perasaan ingin menyerah. Saya benar benar merutuki masalah masalah yang hadir karena semakin banyak terjalnya. Berkelok kelok dan kadang tersesat. Hikmahnya seperti saya petik selangkah dua langkah saja. Selebihnya, saya sering terpukul oleh banyaknya amanah dan masalah. Fase Setelahnya, yakni menikah ,adalah proses yang tak kalah beratnya. Tapi di momen inilah saya jauh lebih bersahabat. Langkah saya jauh lebih mantap. Airmata yang mengalir sebanding dengan mengalirnya hikmah, benar... kalau dibuat novel mah, saya belum sanggup sangking banyaknya hikmah yang terisi dikepala saya (gak sesuai sama kemampuan saya, hi).

Dan proses ini belum selesai sampai detik saya menjadi 24th ini. Saya tau, saya mengerti, ini bukan usia yang muda. Menjadi labil, dan menangis adalah hal biasa kalau kita sudah sampai tahap ini, tapi ini sebanding lurus sama rasa syukur kita tiap bersujud. Pokoknya luar biasa. Luar biasa karena saya merasa berproses jauh lebih kuat, lebih stabil, lebih sabar dan lebih menikmati hidup. Saya mah masih belajar, jadi bukan berarti kekuatan saya itu menjadikan saya sang superwomen, supermom, superwife, Nooo!!!!

Fase menjadi ibu, hiks.
Saya gak menyangka, akhirnya penyemangat saya muncul. Dia seperti hero hero dalam film kepahlawanan yang muncul di klimaks plot yang sedang dalam masa keputusasaan. Karena cuma hadir nya saja, saya bisa benar benar merasa hidup. Saya benar benar bergumam setiap saat. "Oh... so its the real life". Padahal mah belom. Wkwk. Lalu sesaat aja, saya bisa merasa pengen punya banyak. Iya, pengen punya banyak hero. Jiakaka.

Tapi proses ini membuat saya jadi merasa, Mmm...."manusia banget". Oh
. Entahlah... kalau saya suka ngisengin yang muda, itu karena saya sudah pernah pada proses tersebut, iya, proses waktu masih muda (jadi merasa tua banget). Ngebully Adek, nggodain yang jomblo, ngerjain yang lagi heboh skripsi, nggombalin yang gemesan sama bayi, ngehitung tanggal tua, etc . itu semata karena sisi lain saya yang usil.

Pokoknya 24th belum apa apa. Tahun depan 25th (Alhamdulillah, kalau sampai ya :p ) baru lah yang kencangkan ikat kepala. Sekarang udah pasang, tapi masih longgar. Tahun depan (lagi-lagi kalau sampai) sudah harus musnah sifat manja dan jauh lebih mandiri. Apalagi kalau sudah 2 atau bahkan 3 pasang tangan
menggelanyot manja pada saya. Itu artinya  ini misi diproses 24th.

semua ibu baru (Saya curhat dulu ya), pasti pernah mengalami hal ini kan. Galau saja terbawa suasana. Apalagi kalau senior kita yang sudah sangat amat sangat senior (ngerti kan maksudnya) buka suara dan aksi. Hari pertama melahirkan sudah disodori sufor, hari hari menyabarkan di 6 bulan asi ekslusif ada Aja yang gemes pengen kasih Mpasi duluan, cibiran halus juga ngena waktunya perjuangan MPASI, "masa, makanan anaknya hambar banget, emaknya  pelit banget gak mau kasih gulgar, terlalu phobia".
"teruus... si anak kok proses merangkaknya, jalannya, lambat banget T_T (mirip emak bapaknya), yang lain 7 bulan udah jalan, 8 bulan udah lari" #hedehh.
"Anaknya kurusan sekarang, tambah hitam lagi, ihhh, emaknya pelit ya kasih makan" #hedehhedeh.
Ada lagi komentar  "Supaya gak bosen, supaya update sambil ngemong, sambil menyusui, pegang gadget dong" #hedehhedehhedehhedeh
Tapi yang paling keren dan mempesona adalah nasihat ini
"Udah dik, abaikan komentar sumbang disekitarmu. Percaya aja sama naluri keibuan kamu" #yess

Ya Allah, Ya Robbi, tapi sampai sini gak mengurangi rasa syukur saya sepeser pun kok, atas apapun, atas takdir yang manapun, meskipun dan meskipun, masalah ini belum ada apa apanya sama masalah masalah didepan. Masih banyak jejak galau yang harus saya beresin sebagai pemula ini. Sakitnya si anak kalau lagi kena demam, flu, batuk yang ngajakin bergadang, NWP yang ternyata gak mudah mudah banget, belum lagi menghitung bulan dan persiapan menyapih yang pake rumus WWL. Wow... amazing banget. Tapi syukur, bahagia dan sabar jadi teman baik selama ini, biar gak keteteran apa yang namanya butuh proses itu

Well done, terakhir... sebagai wujud bahagia saya , ada yang pengen saya ingatkan. Pernah gak sih, pernah tidak merasa takjub setakjub takjub nya kita akhirnya bisa melewati semua rasa takut kita ini. Buat saya aja yang sudah melewati 24th. Duluu yang ketakutan menghadapi banyak hal, pertama kali jadi kakak, pertama kali masuk sekolah, pertama kali masuk asrama, pertama kali jauh dari orang tua, pertama kali ketemu teman kuliah, pertama kali ngadepin dosen, dan pertama tama nya, yang ternyata Alhamdulillah kita lewati hingga saat ini. Meskipun dilewatinya dengan sangat dilematis, penuh air mata dan pengorbanan, tapi toh kita berhasil. Gak ada kepikiran apalagi nekat sampai pengen terjun dari jembatan mahakam untuk mengakhiri semua masalah. Padahal kita pernah menghadapi nyaris rasa putus asa. Di ranjang, menangis tersedu sedu, melempar apapun yang ada dijangkauan, atau marah pada siapapun yang mendekat. Wahh.. ternyata semuanya hanya proses, dan kebutuhan untuk mendalami dan memahami proses menjadi dewasa. Itu saja. Alhamdulillah ala kulli hal.

Ttd
Ibu rumah tangga

Selasa, Maret 03, 2015

Selfie


#empet

"Bukannya sedang dalam proses ya, kok masih suka selfie gitu sih. Plus gaya gaya mencle menclenya masih dipake, ayo dong,, yang anggun ukhti... yang anggun. Jaga wibawa kamu, muslimah kan? Jadi kan cantikmu untuk yang terkhusus buat suami kamu nanti,..."

"Kan masih proses. Belum ada yang ngelarang.. belum akad jeng. Hehehe."

"Oh... jadi masih "for sale" gitu yaa?"

#uhk...

Maaf kalau ada yg tersinggung ya, tapi niatnya memang untuk menyinggung. Alias menasihati tidak secara langsung. Tak apa, semua orang butuh berproses, termasuk saya, dari yang gak tau jadi faham. Asal... ketika sudah tau ilmunya, sudah faham bahayanya, langsung diikhtiarkan. Jangan nunggu 'kejeduk' baru sadar sayang.

Kamis, Februari 19, 2015

Wedding day


Pernikahan kalian sempurna?
Atau bagi yang belum menikah? Pernikahan sempurna seperti apa yang kalian harapkan.?

Kita tak pernah benar benar puas dengan acara pernikahan kita...
Tapi kita juga tak pernah benar benar menyesal dengan acara pernikahan tersebut...

Ada yang menyesal karena pernikahannya tak bisa semegah yang ia bayangkan
Ada yang menyesal karena pernikahannya tak sekreatif yang ia inginkan
Pun ada yg menyesal karena pernikahannya tak seislami yang ia rindukan, sebab bertabur lagu jahiliyah, make up yang tebal, baju yang tak menutup aurat.

Pernah membayangkan bagaimana acara jamuan pernikahan Nabi Alaihisalam  dan para sahabat Rodhiyallahuanhu? Semegah apa? Sekhusyuk apa?

Tapi dari sekian penyesalan, bersyukurlah pada doa doa para hadirin yang mengharap keberkahan atas pernikahan kalian. Sebab adanya laki laki yang dikirim Allah untuk menyempurnakan dien mu dan menggandengmu menuju syurga bukan sekedar mencintaimu dengan nafsu atas kecantikan dirimu, keelokan tubuhmu, keindahan suaramu, dan pilihan duniawi lainnya, maka bersyukurlah. Semoga keberkahan atas pernikahan kita tetap terjaga.

Senin, Februari 16, 2015

Menyerah


Sudah beberapa kali pikiran menyerah itu terlintas, tapi kemudian pupus dalam hitungan jam. Seperti itulah perempuan merasa. Setan seperti tak henti hentinya menyiram minyak dalam api amarah ini. Selalu mampu kau redamkan...
Kenapa pikiran pikiran picik ini muncul menyerah. Sungguh aku takut ia datang  di saat yang tak tepat.
Bahkan setiap hikmah yang hadir atas setiap kesabaran dan rasa syukur yg kita miliki, pernah sempat pupus dalam hati dan membuat kita rapuh.
Sungguh, andai cinta ini bukan karena Allah, andai rasa cinta hadir bukan karena Allah yg menghadirkan, pasti aku sudah menyerah. Tapi Allah Maha Kuasa, Maha mencintai, dan mengembalikan rasa cinta itu disaat yang tepat. Aku tahu betapa beruntungnya Allah menetapkan diriku sepertimu, betapa peruntungannya dicintai dirimu dan betapa beruntungnya mencintaimu.

Jumat, Februari 06, 2015

Satu Tahun


Bismillah...

Walhamdulillah...

Genap setahun sudah.

Menjadi orang tua dan tertatih tatih. Belajar dan terus berjalan hingga kelak mampu berlari.

Tak ada kata-kata yang mampu mewakili derasnya rasa bahagia yang kami miliki. Setiap untaian doa yang terucap dalam benak kami, semoga menjadi saksi rasa syukur atas karunia Allah.

Semoga Allah menetapkan takdir yang baik untukmu nak, hingga kini, hingga kelak, hingga waktu yang terbatas. Menjadikanmu salah satu jajaran dari anak anak sholeh yang mempu mempertemukan kita semua di syurga, juga menjadi jalan terbaik untuk ayah dan bunda di akhirat kelak, Amiin.

“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al Furqon: 74)

“Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat pada Allah ‘azza wa jalla.” Perkataan semacam ini juga dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/333)

Farhan Burhanul Fajri, Barokallah fii umrik, ya bunayya.

Ayah & Bunda

Rabu, Januari 28, 2015

Takdir


Baru sebulan, well manisnya sampai ke ubun ubun #weksslebayy..
Lalu percakapan semalam milik suami dan sahabatnya lewat telpon menggoyahkan hati.
Percakapan itu saling terhubung dengan permintaan suami beberapa waktu lalu tentang keinginannya untuk bisa tallaqi di negri para Rasul.
"Mumpung ada kesempatan," ujarnya.
Tentu saja aku menolak. Bayangkan, kita bahkan baru sebulan bisa bersama, jauh lebih banyak waktu yg dihabiskan untuk berpisah. Dan harus diakui, memiliki bayi, lalu LDR dijalani, itu sulit.
Tapi begitulah, percakapan semalam yang tak sengaja terdengar membuatku memikirkannya lebih jauh lagi.

"Pengennya yang di mekkah syeikh, soalnya.. bla...bla..."
"Apapun itu, saya doakan yg terbaik untuk antum,"
"Lha, antum gak menyusul?"
"Ana masih berat syeikh, maklum anak dan istri"
"Sama saja, memang itulah perjuangannya,"
"Tapi setidaknya istri antum sudah ikhlas ya"
"Ikhlas dan didampingi air mata pastinya, anak ana juga masih bayi syeikh, ana bahkan merencanakan untuk membiarkan istri dan anak pulang ke rumah mertua. Kasihan kalau harus sendirian di rumah,"

Sampai disini aku tertegun. Ada sebuah kerelaan terbuka kecil, sangat kecil. Masih jauh lebih tak rela.

"Saya juga sebenarnya ingin sekali, siapa sih yang tak tergiur dan memiliki keinginan untuk menimba ilmu langsung dengan para syeikh besar di masjidil haram. Belum lagi diiming imingi umroh dan haji, MasyaAllah, rinduu rasanya hati syeikh. Tapi masalah pekerjaan, ana masih berat, belum sreg, belum lagi istri dan anak. Semoga... semoga di lain kesempatan ana pun bisa merasakannya"

Suami menjelaskan detil. Sekalipun jawabannya menjelaskan bahwa ia pun tak pernah memaksaku, apalagi sampai dua kali meminta. Ia tak pernah melakukannya. Sama seperti ketika dulu ia memintaku bercadar, selepas dipandang lelaki. Aku terdiam dan ia menjelaskan, bahwa permintaannya bukanlah paksaan. Seolah membiarkanku berpikir saja.

Bagian yang ini aku tersentuh. Sebab ini terkait mimpi, mimpi kami berdua. Takdir oh takdir...
Di saat teman2 puas menimba ilmu, aku terpuaskan oleh kesibukan melayani suami dan anak kami. Disaat teman2 berkeliaran di bumi Allah, aku sibuk membersihkan dapur dan rumahku. Begitu pun suami. Kami hanya bisa tergiur oleh cerita cerita kawan kami. Lalu, aku kembali bertanya, pada hati yg terdalam. Kenapa kita menikah lebih dulu,? Untuk apa? Pertanyaan itu seperti memiliki makna jawaban sendiri, labih dalam. Seperti... biarkanlah.

Sebulan


Bismillah... mewakili hati, menggores tinta.

Sebulan berlalu. Rasa sudah tersemai dengan baik. Mimpi mimpi yang dulu tertera sejak sebelum menikah terlampiaskan sudah. Belum semua, tapi hingga tahapan ini semuanya jauhhh lebih baik. Bisa merawat dengan baik buah hati bersama suami, mendengar lagi suara merdunya suami mengumandankan ayat Allah, memasakkan makanan, menyambut suami pulang kerja disertai tawa riang si kecil, di baiti jannati sederhana ini. Alhamdulillah.

Baru sebulan, atau sudah sebulan...

Selasa, November 25, 2014

C-Ray


Cerai??
Pernikahan saya bahkan belum genap 2 tahun. Dan tentu saja kata itu memiliki hawa mengerikan tersendiri bagi naluri saya.

It's oke. Ini bukan tentang saya. Tentang kisah sepasang lain yang membuat saya kaget bertubi tubi.

Tapi tentang siapapun, cerai akan menakutkan bahkan untuk yang berusia puluhan tahun kebersamaannya. Sebab artinya akan ada sebuah luka menganga yang tergores. Minimal butuh pelampiasan yang amat sadis hanya untuk mengabaikan luka itu, bukan untuk melupakannya.

Satu hal yang membuat saya terkejut adalah, fenomena bahwa: pada akhirnya yang paling sering mengumbar foto mesra lah yang berakhir paling tragis. Apakah dulu mereka merasa sehidup semati sampai lupa pada kekurangan pasangan dan pura pura terkejut saat menerimanya. Bah., ratusan hari bukan waktu yang singkat, apalagi ribuan hari dan minggu. Kenapa harus menyerah ditengah jalan. Sungguh se tak sanggup itu
Kah?
Apa ada hubungannya? Mengumbar foto mesra dengan terpisahnya dua hati itu pada akhirnya? Entahlah, silahkan jawab masing masing. Saya pun tak tahu. Hanya saja bagi penonton seperti saya tentu terasa mengganjal.

Saya memang beberapa kali mendapat teguran secara tak langsung untuk tidak memasang foto mesra berdua dengan berbagai alasan. Tapi, begitulah manusia. Seperti butuh pengakuan diri, aktualisasi diri. Harus selfie mesra dengan alasan kepuasan saja. Loh, saya tak memungkiri itu. Entah setelah diposting apa alasan paling dalam nya, riya, pamer. Ahhh.. saya juga tergiur, tapi.. oh entahlah.

Rabu, November 19, 2014

November


Oh... welcome november

Selasa, November 04, 2014

Catatan fiksi-nyata



Siang mulai beranjak sore. Hari itu lelah kami berpadu cepat. Perjalanan panas antara Balikpapan-Samarinda rasanya begitu menggairahkan untuk tidur. Kecuali abah yang sedang asyiknya menemani pak supir bercakap-cakap.
Supir : Oh.. jadi baru menikahkan anak ya pak
Abah : iya pak, anak kedua. Masih kuliah pula, semester 7
Supir : Walah pak, jadi ini udah nikahan anak yang kedua ya? Gak sayang pak sama kuliahnya anak-anak?  
Abah : Sebenarnya nanggung pak rasanya. Yang kemarin, anak pertama kan mundur lulusnya, malah belum bisa lanjut untuk jenjang selanjutnya (lirikannya ‘nyaris’ menuju saya. Jadi ya, rasanya juga ‘nyaris’ nyucuk banget dihati, huhu)
Supir : Wah sayang sekali...
Abah : Yah.. nggak juga pak. Begitulah kalau jodoh sudah datang. Anak-anak saya ini kan perempuan. Kalau ada laki-laki sholeh yang datang meminta ya mau bagaimana lagi, harus diterima, tanpa alasan apapun, apalagi kalau masalahnya belum lulus. Bisa timbul fitnah nanti pak...

Saya : Eheheh #ngalem, #Wew

8 Bulan



Kenapa kebiasaan si kecil mulai berubah lagi?

And it makes me annoyed,

Sesungguhnya.. sebenarnya... aku sudah mengantuk sejak tadi. Tapi memang beginilah siklus tidur kami para ibu. Yakni tergantung bayinya, kapanpun ia ingin bangun, bangunlah kita, kapanpun ingin tidur, tidurlah kita. Kecuali para ibu berhasil me’lobi’ si bapak untuk ikut turun tangan mengurus bayi. Jadi bahasa kejamnya, si bapak akan mengurus bayi ketika bayi bangun,dan membiarkan ibu tidur lelap tanpa gangguan. Dan ketika bayi pun tidur, si ibu juga ikut terlelap disampingnya, huawaahh kejamnya...

Bahkan ketika  jam dinding sudah berdetak sepuluh kali, ia masih merayu- rayu dengan tangisannya untuk bermain. Seolah meminta berhenti untuk dikeloni. Terpaksa dan dengan sangat terpaksa aku menghentikan belaianku, mengajaknya bangun, menyalakan kembali lampu kamar, daaaan, tersebarlah senyumnya. Cerah dan meluluhkan. Tangannya bergerak-gerak lucu menatap kipas angin. Suara khas bayinya keluar membentuk nada sambil menggenggam jari jemari kakinya. Ia menatapku berkedip-kedip dengan matanya yang bening, lalu menambahkan senyumnya yang manis dan mempesona, untuk mengajakku bermain.

8 bulan sudah...

Menatap lekat wajah lucunya membuatku haru mendadak. Pertanyaan  pertanyaan yang bertahun-tahun lalu tak kian terjawab, rupanya dijawab kini.

are you my baby?

Mengingat dulu tangan bahagia ini mengangkatnya, ia masih sangat kecil dan lemah waktu itu. Lalu ia sudah mulai bisa tertawa, menggenggam tanganku. Oh, it’s so happy.  Selang bebarapa bulan kemudian kami menunggu gerak tengkurapnya, tak juga hadir, sabar tentu saja ada, tapi proses menunggu dengan gelisah itu lebih dominan. Kamu kenapa sayang? Malas kah? Atau tak mampu? Kenapa rasanya seperti menjudge si bayi ini. Pun ketika bulan ke 7 ia belum juga menampak rasa ingin merangkak, kami masih siap menunggu. Bagaimanapun proses perkembanganmu itu membahagiakan, membuat kami menunggu-nunggu. Sabar dan gelisah sudah diluap-luapkan pada suami lewat seluler, pun disuruh sabar dan jangan gelisah. Nasihat seperti ‘semua anak punya caranya sendiri, punya masanya sendiri untuk berkembang’ , semua itu tenggelam dengan kicauan mereka tentang ‘Loh, anakku sudah mulai tengkurap usia 2 bulan, sudah mulai merangkak usia 7 bulan’. Lalu gelisah lagi... it is me, Mom.

Now, 8 bulan

Apa aku yang salah? Stimulasi yang kuberikan tidak begitu baik? Aku banyak tidak belajar? Kebanyakan teori? Lalu harus belajar dari mana? Sampai-sampai godaan untuk membelikan dan menaikkan dia di ‘baby walker’ menggiurkan dibenakku. Tapi sisi lain sehatku masih bisa bergeming dan menggumamkan, “He is still eight months...”

Baiklah, fokus balik lagi.

Sementara aku berebah, si kecil duduk di sisiku, menepuk-nepukkan tangannya (dengan khas gaya bayi tentunya) dan aku bernyanyi.

“Kamu mau main apa sayang?”
Tak ada jawaban pasti keculi suara lucu dari mulutnya.

“Oke, Ayo tepuk tangan, anak yang sholeh..”

ia menggerakkan dua tangan mungilnya untuk dipertemukan didepan dada, mengikuti arahanku, done! Aku tersenyum. Sembari bernyanyi dan mengulanginya beberapa kali lagi.

“Selanjutnya, geleng-geleng ya nak...”

Kembali ia mengikuti arahanku, menggelengkan kepalanya tanpa aturan. Tawaku pecah. Lucu.

"Teriak ! Aaaaa.." aku mencontohkan. ia pun kembali mengikuti. Mulutnya bergerak melebar dan berucap, " Aaaaa" dengan ekspresi marah dibuat- buat

Stimulasi kecil ini sering diajarkan ammah2 yang mengajaknya bermain. Tepuk tangan, geleng-geleng, memeletkan lidah, memainkan bibir, kemudian kiss bye (boleh usul yang lain, hehe).

Puas rasanya melihat ia ikut tertawa juga.

“Kalau begitu terkhir, sebelum kita bobo. Daadaa sayang..”
Ia kemudian mengikuti tanganku yang melambai-lambai. Gerakannya ke segala arah. Membuatku makin terbahak-bahak.

“DAADAAA,..” ucapnya lamat dan jelas. Tentu saja membuatku surprise. Ia bahkan sudah bisa mengkuti ucapan sederhana itu. Kalau kemarin ia juga mengikutiku bicara “Nggak” dengan keras, lalu bunyi ‘toet-toet’ juga lumayan jelas, membuatku tersihir beberapa saat. Sebelum akhirnya rasa haru itu memuncak, menghadirkan setetes air bening di ujung mata. Tak  urung aku menciuminya bertubi-tubi.

Kali ini waktunya istirahat, aku mematikan lampu, menaruhnya kembali ditempat tidurnya, kemudian kembali pada epiode ‘keloni’. Ia masih mengeluarkan suara kecil membentuk sebuah nada lewat bibirnya. Lalu mengangakat jemari kakinya dan membiarkannya menyentuh mulutnya. Iamjinasiku bermain, membayangkan seolah ia bernyanyi sambil memegang mic, yaitu kakinya sendiri. Imajinasiku tak penting. Tapi melihatnya bergerak baik dan normal itu lebih membahagiakan. Sambil membelainya , aku mengucapkan terimakasih karena sudah banyak membuatku tertawa dan bahagia hari ini.


Yes, he is still eight months old

Pesan Singkat


Saya seperti bangun dari sebuah ketidaksadaran yang amat lama ketika menemukan sebuah pesan singkat dari suami saya.
Saya menunggu kesediaan kalian, bunda dan fajri untuk mendampingi saya disini...
Pada akhirnya pesan itu keluar. Entah bagaimana mendefinisikan perasaan saya saat itu; marah, terharu, kesal,sedih, takut dan rindu. Semua terwakilkan dalam getaran tangan saya dan setetes air mata disudut mata saya.  Emosi saya teraduk kala itu.

Sebab,
Ini sudah bulan kelima, usia anak saya bahkan sudah menuju 8 bulan. Masa-masa emas dimana ia hanya menggiring senyum semua orang yang memeluknya. Lucunya mengalahkan boneka manapun yang pernah dibeli semahal apapun. Tapi bahkan haru dan bahagia itu terbagi menjadi sesak dan rindu yang menggumpal karena harus berpisah dengan belahan hati. Terakhir suami saya melihat si kecil adalah ketika ia masih 2 bulan. Ia bahkan belum mampu merespon secara sempurna terhadap apa yang suami lakukan saat itu.

Dilematis dalam arti yang sesungguhnya. Akan dibawa pergi oleh laki-laki yang dirindui adalah angan terkeras saat ini, namun tak bisa juga dipungkiri, bahwa saya bahkan merasa takut. Takut pada dunia nyata, bahwa ini waktunya berjuang untuk sebuah realitas hidup yang sesungguhnya. Membayangkan bertahun-tahun kemudian seperti apa kiranya keluarga saya, membuat saya tak henti-hentinya merapal do’a. Harus memulai adaptasi dari nol, di sebuah tempat yang sungguh asing, bahkan mungkin karena lamanya tak bertemu, bisa jadi suami adalah salah satu dari sosok asing itu, adaptsi yang berat kiranya. Tapi menyesuaikan mimpi untuk bisa sukses, adrenalin saya juga seperti terpacu, semangat juga membara, merasa tantangan segar membias, jalan baru untuk lebih baik. Mana yang terjadi, entahlah...



 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men