Jumat, September 30, 2016

ASI


ASI itu memang makanan penuh berkah, MasyaAllah. Dua anak, Allah kasih kesempatan merasakan gimana perjuangannya ASI. Eh, tetap sih, perjuangan itu karena adanya kekuatan, dan kekuatan itu Allah yang hadirkan. Jadi saya cuma manusia biasa yang menjalankan apa yang Allah kasih. Meskipun, tetap, di dalamnya pernah ada proses menyerah. Karena ada ibu-ibu yang Allah takdirkan berbeda. Tetap, pasti ada hikmahnya ya ibu-ibu 😊. Selamat berjuang!

Si kakak Masya Allah, udah di kasih amanah adik di perut dari pas umur setahun. Morning sickness sih g seberapa ya ibu-ibu. Tapi mental nya yang sempet drop. Lari ke bidan mana mana ya tetap suruh disapih.  Apalagi lingkungan? Ah, sudahlah! Mungkin juga karena kala itu di desa. Tapi saya tetap ngAsi sampai hamil 8 bulan (karena akhir nya nyerah, dan ini murni karena kesalahan saya sebagai manusia). Di perjuangan NWP itu, badannya si kakak tambah gemuk, subur. Aduh, bahagianya gak karuan. Sampai akhirnya memberanikan diri buat melahirkan di perantauan (karena bahagia ini). Entah kenapa, saya merasa bisa menyusui langsung anak anak itu membahagiakan. Lagi suntuk, sedih, marah langsung kasih ASI, bahagia aja bawaannya.

Lalu, kebetulan si adik, sampai umur nyaris 11 bulan gini. MPASI g karuan berantakan. Nyoba dari yang homemade, sampai yang instan, berhasil di lepeh lepeh. Padahal yang kenal saya, tau gimana idealisme saya sama urusan makanan pendamping dari zaman kakak, no gulgar, hambar lah. Haha, sekarang tinggallah cerita. Cuma hari ini, karena masih lanjut ASI badannya tetap (lumayan) makmur anaknya sehat, aktif. Jadi saya juga gak ngoyo bener. Alhamdulillah, gak stress, masih bahagia

Tapi kalau ada yang tanya gimana resepnya, saya juga kurang tau. Kata mereka, ASI basi kalau lagi hamil, atau harus ada tambahan Sufor setelah asi ekslusif, itu mungkin bisa jadi karena banyaknya pengalaman. Saya g bisa bilang salah. Mungkin kuncinya saya menikmati aja. Meski harus terkurung di dalam rumah berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan. 😁😁

Selasa, Agustus 30, 2016

Terapi menulis


Hei... pukul 01.31 dini hari

Terbangun karena batuk batuk nya si abang fajri. Lumayan rewel padahal sudah minum obat sebelum tidur.
Saya lumayan terbantu kalau hanya salah satu yang sedang sakit. Sementara yang lainnya bisa anteng tidur meski dalam satu ranjang. Tapi si kecil masih ASI full, jadilah ia terbangun hampir di setiap dua jam sekali. Akhirnya saya meronda. Disetiap selingan momen bangun keduanya, saya berselancar di dunia maya. Di blog blog para perempuan yang menginspirasi.

Seringnya, memang saya cepat terpukau dengan ibu ibu muda yang hidup di negri lain, merantau, entah kuliah atau kerja atau sekedar ikut suami. Mereka, yang mungkin kalau di indonesia, pasti sudah jadi ibu ibu aktivis yang berakhir menitipkan anak entah untuk sekian jam, tapi karena di tanah rantau ya akhirnya pegang sendiri para anak, mendidik sendiri, dsb.

Tuntutan itu beriringan dengan tanggung jawab yang totalitas ya akhirnya.

Curhatnya akhirnya sama.... tentang bagaimana para ibu berjuang.

Tapi ya mereka beda. Hehehe. Bukan membandingkan ciptaan Allah. Hanya saja, memang kapasitas saya belum sekuat mereka. Dari macam macam sisi lah, mungkin ada sisi lain yang mereka kurang tapi kan gak di share.

Tapi, saya menyadari satu hal. Mereka sama sama butuh apa yang disebut dengan 'terapi menulis', akhirnya nge'blog. Dan akhirnya malah inspiratif sekali.

Kebutuhan yang sama seperti saya 😂😂
Hanya saja, ya itu tadi, kapasitasnya yang beda. Blog saya akhirnya masih melulu melulu pemikiran lepas saya, yang saya gak tau di bagian mana ada nilai inspirasinya, hihi. Karena blog ini murni buat 'terapi menulis' dulu.

Selain kapasitas diri, plus kemampuan dan kerajinan kami berbeda, adalah nasib yang menjadi yang masih berbeda.

Kalau tanah rantau mereka adalah luar negri yang notabene nya kota besar, sementara saya terdampar di pelosok desa dengan segala keterbatasan.

Belum ada ya ceritanya...

Ya adalah, banyak! Saya aja belum ketemu. Dan, saya pengen sih ketemu, tapi yang sesama blogger, minimal biar bisa menginspirasi. Karena kalau sekedar merantau ikut suami ke desa pelosok ya banyak. Tapi yang butuh 'terapi menulis' gak semua. Ada yang dasarnya sudah 'cerewet', hingga adaptasi mereka biasanya sudah oke, hanya dengan modal lisan capciscus... hihi. Dan saya g secocok dengan tipikal begini.

Ngomong-ngomong...

Cita cita saya dulu bisa lanjut kuliah, keliling dunia, merantau ke luar negri gimana ya?

Ya itulah, karena belum kesampaian, akhirnya, saya fokus baca baca blog mereka dulu. Mereka update ya, emak emak kece banget. Yakin deh, pemasukannya sesuai dengan apa yang dikeluarkan sebagai uneg uneg itu.

Saya g ngerti ini. Banyak hal, dalam diri yang harus diinstal ulang. Masa baca buku novel karangan tere liye saja, sudah 2 bulan lebih ga rampung rampung. Majalah tipis? Bisa seminggu. Akhirnya, jangan kaget, kalau tulisan saya g inspiratif begini.

Jadi saya simpan dulu cita cita itu. Usaha saya untuk install ulang kepala dan hati saya sepertinya butuh proses yang lumayan lama. Sebenarnya, secara visi misi dan prinsip, saya dan suami sudah lumayan sama. Ada beberapa yang berserakan, akhirnya g ketemu. Misalkan, sisa sisa freestyle saya masih ketinggalan sedikit, susah hilang, karena sangking kepengen nya dulu nginjek daratan eropa.

Kalau suami? Yaaa itulah... masih sisa sisa anak kampungnya kerasa. Meskipun sudah 5 tahun merantau meninggalkan kampung halaman, tapi karena dari kecil sudah hidup serba apa adanya ya beliau senang hanya dengan bercanda tawa dengan para sesepuh.

Tapi itu sisa sisa dari diri kita. Benar benar sisa sedikit.

Saya g akan memaksa suami untuk menghilangkannya, sama seperti suami yang g minta saya untuk ndeso banget seperti perempuan perempuan disini yang g ngeluh. Jangankan untuk tidak diberi hape canggih yang bisa internetan, gak dibelikan tivi di rumah pun mereka legowo. Ahhh....

Sabtu, Agustus 27, 2016

Kenangan


Impian bukanlah angan-angan
Ia adalah energi dan jiwa
Ia adalah bukti semangat ketika muda
Ia adalah... perjuangan.

Tapi setiap mimpi bisa saja berubah
Karena waktu dan obsesi adalah nyata
Ia menelan, membuang atau cuma sekedar menyembunyikan impianmu
Tapi hanya bila, kau menelantarkannya

Apa? Tunggu!

Apa aku sedang berkamuflase dengan kenangan dan Mmm... masa lalu?

Bukan!
Ini realistis. Mimpi kamu. Dengar! Mimpimu!

***

Ada hari hari dimana aku merasa begitu pincang diantara langkahku

Waktu terasa begitu lambat berjalan, tapi hari cepat sekali berlalu. 'Aku bertemu malam lagi,' hanya saja apa yang dicari tak sampai

Aku mendesain malam sebelum tidurku, memikirkan apa yang akan aku hidangkan besok.

Aku tak bisa merebahkan diriku  sebelum orang orang di rumah ini telah lelap diantara bantal guling.

Dan lagi lagi bergumam
'Sudah malam lagi'

Begitu seterusnya.

Aku menikmati, tapi ada muncul titik jenuh di berlalu nya hari

Ah, begitulah manusia. . .

Apalagi perempuan, rentan merasa apa apa yang tak sesuai dengan hatinya.

***
Bukaaan!!!

Aku sedang tidak menyerah,
Aku menyemangati diriku,

Karena tiba tiba mimpiku berbelok arah.
Tapi arahnya akan semakin panjang,
Hanya tentu, ia lebih realistis.

Kepingan dunia yang ingin kujelajah itu,
Sedang dipersiapkan, tapi bukan untuk sekedar menikmati,
Aku ingin berkhidmat
Hingga menemukan satu pose terindah untuk yang sedang menungguku.

***
Aku memang sedang melangkah jauh dengan heningku.
Meninggalkan masa muda yang seiringan menjauh
Tapi, aku tau tenyata tak ada yang sia sia...



Sabtu, Juli 23, 2016

Some.... times


Pernah merasa ingin menyerah?

Tentu ada,

Adakalanya perasaan menghampiri di saat saat yang tak begitu tepat. Ketika semua perasaan nelangsa bersatu padu dengan keadaan yang memang sedang melelahkan.

Yang mungkin andai kata salah satu dari kami melepas predikat sabar itu, maka lengkap lah bara bara api dan berakhir dengan menyerah.

Bagi diriku misalnya,
Perempuan manja. Setidaknya awalnya manja. Yang akhirnya harus bertemu dangan lelaki yang mengajak berjuang secara tak main main. Itu g mudah.

Kombinasi dari rasa lelah hari itu, sakit yang mendera seperti demam dan flu berat, di bayang bayangi pekerjaan rumah yang menumpuk, di tambah dengan dua anak batita yang sedang tak enak badan. Seharian rewel, dan bergantian menangis hingga malam larut.

Adaaaa saja godaan untuk menyerah.

Menyerah dan ingin kembali menjadi gadis manja orang tua dulu.atau setidaknya saat 'oleng' bisa jalan jalan bersama teman teman, menghabiskan 'sedikit' pengeluaran kita untuk bersenang senang, sebelum akhirnya tersibukan oleh pekerjaan kantoran Hahahaha[entah apa maksudnya ini], Yang terbiasa ini itu tinggal "ting" meski dalam versi usaha dikit.

Tapi, kalau tidak ingat dibalik semua  keadaan berat itu, ada sebuah hadiah berupa kekuatan seorang perempuan yang amat mahal tak terhingga yang ingin kumiliki.

Setidaknya, bila nanti, mimpi itu tercapai, ada cerita haru yang benar benar bisa menjadi kado atas kesuksesan kita. Ah, syurga... syurga... kita harus bertemu di syurga

Selasa, Juli 12, 2016

Love you more and more


That's why marriage called "completing half my deen". That's not easy to make it complete.

Tiga tahun kita aku definisikan 'baru'. Sebab, aku masih bertahap memahami, betapa cepatnya aku berubah.

Ada kalanya aku merasa, pernikahan ini adalah jembatan tercepat untukku merasakan cintaNya Allah. Air mata, dan ujian kesabaran adalah alurnya.

Dan bila, aku merasa terperosok pada 'tawa' dan 'manja' yang amat dalam, sebuah hole terbesit begitu saja. Mengingatkan, alarm. Hai itu dunia...dunia...semu!

Aku cuma perlu memastikan pada diriku sendiri bahwa aku harus terus belajar. Terus-menerus bertanya tentang apa itu bahagia? Versi diri sendiri, dan aku merasa harus tegas.

Pertanyaan yang hadir di setiap proses pendewasaan. Pertanyaan yang telah muncul jauh jauh hari setelah label aqil baligh menjadi bagian diriku.

Tapi jawabannya terbuka lebar setelah aku menikah.

Proses. Belum utuh. Bahagia itu apa?

Nah, padamu lelakiku...
Aku masih ingat bagaimana kamu mengenalkan dirimu di malam pertama kita.

"Aku bukanlah pria romantis, kaku tapi amat pencemburu"

Tidakkah itu terasa tak adil kedengarannya.

Sementara duniaku sebelumnya adalah tentang drama drama korea dan puisi puitis yang dibait kan ketika hujan gerimis.

Jadi, perjalanan 3 tahun bersamamu. Serasa tampak amat panjang. Hari hari aku menghitung, kapan perjalanan ini akan lebih ranum. Sementara episode romantis itu melulu menghantuiku. Ah, tak peka.

Tapi sekali lagi waktu membantuku. Adalah cinta yang membantuku manjadi jauh lebih mahfum. Bagimana Allah mencintaiku lewat caramu mencintaiku. Ia titipkan sepenggal perasaan "uhibbuki fillah" itu dengan sungguh sungguh. Pancaran matamu melukiskan kesungguhan sekaligus meluluhkan.
Adalah aku yang akhirnya mencintaimu, karena besarnya cintaku pada Allah. Ternyata jawabnya adalah Allah dulu, Allah dulu dan Allah lagi.

Sekarang,
Maafkanlah aku.
Perempuan tanpa daya.
Sebab di waktu itu, tak mudah bagiku meletakkan taat ku pada seseorang yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Apalagi mengikuti langkah seseorang yang sangat asing bagiku.

Sekarang,
Aku memilih mencintaimu, tanpa daya. Karena Allah yang menentukan. Seperti yang pernah kamu bilang padaku.
"Mau di putar seberapa banyak, seberapa lama apapun masa lalu kita, jalannya tetap sama. Takdir sudah ada di lauhul mahfudz. Kita akan tetap bertemu di pernikahan ini."

Eh, aku baru sadar, itu romantis.

Jumat, Juni 24, 2016

Menanti, penantian...


Untukmu yang sedang menanti.

Wahai Allah...
Yang meletakan ku pada posisi menanti.
Berat, adalah ungkapan dari hati yang terdalam. Terjebak dalam hembusan nafas berkali kali , meminta diri mencoba bersabar.

Wahai Allah...
Yang mengetahui segenap kemampuanku, Yang menyerahkan takdir baik atas apa apa prasangkaku. Yang tak mungkin menyakitiku atas besarnya pengharapanku.
Aku menyerah... aku pasrah... aku percaya dan aku ikhtiar.

Jaga ikhtiarku,
Agar aku tak hanya terjebak dalam emosi tak terkendali.

Sebab...

Menanti itu
Bukan hanya urusan waktu.

Apatah lagi hanya sekedar bawa perasaan

Atau menghitung sajak sajak pengorbanan,

Bukan pula sekedar menerka, bagaimana takdir masa depan kita .

Menanti...

Adalah sebuah proses,
Yang meminta kita untuk senantiasa belajar

Adalah sebuah jeda,
Untuk kita lebih kuat mengangkat kaki di langkah selanjutnya

Adalah sebuah pengharapan,
Sebagai semangat untuk bisa jauh lebih merasa pantas.

Wahai Allah...
Lingkarkan aku dalam lingkungan yang menjaga setiap perasaanku.
Bariskan aku pada barisan yang mengerti bagaimana cara membantuku berjalan.
Kumpulkan aku pada mereka yang menggenggam kuat tanganku agar tak payah melewatinya.

Sebab,
Aku tampak kuat...
Tapi rapuh di dasarnya.
Aku tampak tegak mengangkat kepala
Tapi ingin jatuh berkali kali.
Aku tampak baik baik saja
Tapi merasa sakit di saat menyerah.

Pada akhirnya aku tahu...
Aku hanyalah membutuhkanMu. Bukan berharap banyak pada orang lain

Pada akhirnya aku tahu,
Cinta suci itu adalah benar. Tapi suci, karena Kau menyerahkannya di saat yang tepat.

Ya... semua hanya urusan waktu yang tepat.

Mungkin aku tak sanggup menghitung setiap air mata yang jatuh.
Mungkin aku tak sanggup melewati malam malam yang penuh keresahan.
Mungkin aku tak sanggup menjawab wajah wajah penuh tanda tanya
Mungkin aku tak sanggup menerka nerka seberapa pantas aku (lagi, lagi dan lagi)

Aku, padaMu Allah...
Tak bisa merasa 'sok kuat' bila padaMu Allah.
Tak mampu merasa pantas bila padaMu Allah.

Penantian yang indah...
Hahaha, itu kamuflase kawan. Di dalamnya akan tetap ada rasa sakit, kecewa dan cemburu mengejarmu.

Aku dan penantian yang indah. Keduanya adalah milik Allah.
Yang euforia nya hanya bisa dirasakan saat kita menang, menahan rasa rindu, sakit, dan menyerah, lalu bertemu dengan takdir sekaligus pengharapan terbaik itu.

Minggu, Juni 12, 2016

25th


Kira kira sepekan yang lalu saya genap berusia 25 tahun. Meski menikmatinya disambi merawat anak yang sedang dirujuk ke rs, tapi tetap masih sama spesialnya seperti tahun tahun sebelumnya. Tanpa acara, tanpa ucapan, apalagi kado kado. Kecuali sedikit ceramah dari pak suami, tentang cara terbaik mensyukuri nikmat usia ini.

Tak pernah ada masalah. Sejak bertahun tahun lalu memang tradisi merayakan ultah itu sudah musnah dalam keluarga kami. Terutama setelah menikah.

Hanya saja....
Bukan itu intinya.

Hanya saja, mendadak diri ini menjadi merasa begitu amat tua. Sebelum akhirnya sampai pada usia ini, waktu seakan berjalan begitu cepat. Setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti sejam, sejam seperti semenit. Apa ini? Tanda akhir zaman.

Perasaan sedih itu melanda begitu saja. Seperti badai yang menampar pikiran hingga ke ulu hati. Persiapan apa hingga sampai ke usia ini? Sudah menjadi apa? Seperti apa? Dan berakhir pada, kenapa mimpi mimpi masih banyak yang menggantung tanpa arah?

Baik!

Resolusi hidup saya memang banyak yang tak tercapai. Mendadak takdir membuat saya terdampar pada cerita lain. Saya tergugu. Kenapa lagi lagi menyalahkan takdir?

Ini sedang melucu?

Padahal saya lah yang sebenarnya sedang patah arang. Kehilangan motivasi, arah tujuan, visi misi, dan mimpi itu.

Bukan...bukan...

Mari pelan pelan mencari jalan. Semua mimpi itu tidak hilang. Hanya, tak terkabulkan dalam satu waktu dan sesingkat yang diharapkan.

Andai di buka lembaran lama. Saya sebenarnya sudah menemukan mimpi mimpi lain, tapi kurang terbaca oleh hati sehingga mimpi yang amat dekat yang selalu ingin segera tercapai.

Usia tak pernah mematok mimpi. Obsesi lah yang mengikatnya. Mari pelan pelan mencari hikmahnya. Saya pikir, saya sudah tak lagi muda. Ada banyak jalan yang lebih ramah untuk di lewati kami. Ya! Saya dan keluarga tentunya.

 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men